Desember adalah bulan terakhir dalam rentang waktu satu tahun. Akhir bulan Desember adalah saat yang pas untuk merenungkan tentang waktu dan perjalanan hidup seorang manusia.

Perjalanan hidup manusia adalah persinggahan dari suatu waktu atau momen ke suatu waktu atau momen lainnya. Waktu selalu berganti. Waktu selalu bergerak, tidak tinggal tetap.  Suka- duka, gagal- sukses, sehat- sakit, cinta- benci, konflik- rekonsiliasi, perang- damai adalah dinamika yang  mewarnai sepanjang  perjalanan itu.

Tahun hanyalah durasi waktu. Waktu satu tahun terbagi dalam bulan. Bulan terbagi dalam minggu dan minggu ke dalam  hari. Satu hari adalah durasi waktu yang dibutuhkan Bumi untuk berputar pada porosnya. Waktu satu tahun adalah durasi waktu bagi Bumi untuk berotasi mengelilingi matahari.

Jika dipahami sebagai fenomena alam sesungguhnya memperingati pergantian tahun adalah sama saja dengan memperingati Bumi yang telah berhasil berotasi mengelilingi matahari dengan selamat tidak ada gangguan sekecil apa pun – (amit-amit jangan sampai terjadi deh,  kalau terjadi gangguan sekecil apa pun itu sudah dapat dikatakan  kiamat)

Kalau tahun hanyalah masalah durasi waktu yang merupakan suksesi dari detik, menit, jam, hari, minggu, bulan ke tahun, mengapa pergantian  waktu satu tahun menuju tahun berikutnya menjadi begitu penting bagi manusia sehingga perlu dirayakan sedemikian hebohnya?

Bagi manusia perubahan durasi waktu ke durasi waktu bukanlah sekedar hitungan pergantian dari hari ke bulan, bulan ke tahun. Waktu satu tahun dalam hitungan usia hidup manusia adalah jangka waktu yang cukup lama.  Pergantian tahun berarti bertambah satu tahun usia perjalanan hidup manusia di bumi dimana selama itu banyak peristiwa yang terjadi dan mewarnai perjalanan hidupnya. Manusia adalah makhluk selebrasi– segala sesuatu yang dianggap penting dan menentukan jalan hidupnya akan dijadikan momen peringatan yang dikenang dalam bentuk ritual perayaan.

Sejarah perayaan  Tahun Baru pada dasarnya berasal dari berbagai cara kuno yang digunakan masyarakat untuk menyambut musim panen baru.  Asal-usul adat istiadat yang terkait dengan perayaan Tahun Baru, mengambil akar dalam cara-cara masyarakat kuno memaknai Tahun Baru yang diamati tidak jauh dari kegiatan pertanian. Untuk orang Indian Creek, misalnya, pematangan jagung pada bulan Juli atau Agustus menandai berakhirnya satu tahun dan awal datangnya tahun yang baru (theholidayspot.com/).

Suku Indian asli,  Iroquois, memulai tahun baru pada bulan Januari, Februari atau Maret dengan melakukan upacara pengusiran roh jahat. Untuk mengusir roh-roh jahat yang berbondong-bondong datang pada  bulan-bulan pergantian tahun, mereka  membuat membuat bunyi-bunyian yang memekakkan telinga seperti meniup terompet dan memukul drum. Cara ini nampaknya menjadi ide yang melandasi mengapa di tengah malam pergantian tahun kita mendengar suara hiruk-pikuk yang memekakkan telinga seperti sirene, klakson mobil, peluit kapal, lonceng gereja, terompet, drum, pot dan panci – dan apa saja yang dibunyikan bareng-bareng saat puncak pergantian tahun  (theholidayspot.com/).

Sejak tahun 1900an mulai berkembang kebiasaan menghabiskan malam akhir tahun dengan berkumpul bareng-bareng di satu tempat (umumnya di hotel, tempat wisata atau turun ke jalan). Atribut dan pernak-pernik pesta seperti membunyikan terompet atau bunyi-bunyian lainnya, pesta kembang api dan begadang semalam suntuk menghabiskan sisa hari di akhir tahun  menjadi penanda perayaan penutup tahun sekaligus menyambut tahun yang baru. (wikipedia.org/). Budaya yang semula hanya dipraktekkan di Negara-negara Amerika dan Eropa , di abad globalisasi dan tehnologi komunikasi saat ini telah menyebar dan diadopsi sebagai budaya masyarakat global.  Pesta perayaan akhir tahun untuk menyambut pergantian kalender Masehi menjadi ritual tahunan yang rutin dijalani oleh manusia di hampir semua Negara di dunia, khususnya mereka yang tinggal di wilayah perkotaan.

Para warga kaya di kota-kota besar yang terintegrasi dalam budaya atau gaya hidup global  akan   merayakan malam tahun baru  dengan berpesta pora  menghabiskan anggaran jutaan hingga milyaran. Hura-hura pesta akhir tahun ,khususnya yang dirayakan di hotel-hotel dan resort-resort mewah di seluruh kota besar dan destinasi wisata di dunia merupakan bagian dari gaya hidup hedonistis manusia kaya yang memang telah cukup bahkan berlimpah secara finansial, sehingga mengeluarkan uang puluhan atau ratusan juta hingga milyaran untuk membiayai gaya hidup yang konsumtif merupakan hal yang enteng. Selebrasi akhir tahun adalah saatnya membahagiakan diri, saatnya bersenang-senang menikmati hidup , melepaskan diri dari kejenuhan dan kepenatan fisik dan psikis akibat tekanan pekerjaan  selama satu tahun bekerja.

Jika dulu biasanya orang menyambut tahun baru dengan tirakatan, perenungan,  dzikir, atau dengan melakukan puasa. Sekarang ini orang yang memilih cara bersunyi sepi dalam meditasi dan kontemplasi tidak lah banyak. Sebagian besar kita memilih larut dalam suasana selebrasi penuh kegembiraan. Setiap orang bebas untuk memilih cara apapun untuk memaknai pergantian tahun. Ada yang sudah jenuh dengan kebisingan hiruk pikuk dan carut marut kehidupan yang semakin materialistis-konsumtif dan merindukan suasana yang tenang, sunyi sepi untuk mendapatkan  kembali ketenangan dan kepuasan batin melalui jalan meditasi dan refleksi. Ada yang sudah lelah dengan tuntutan dunia kerja yang semakin keras dan sangat kompetitif, dan membutuhkan suasana bebas, lepas, dan penuh keceriaan.  Kelompok terbesar adalah mereka yang merayakan tahun baru karena terseret eforia massa yakni hasrat berkumpul dan bergembira bersama memperingati suatu yang sungguh abstrak  -pergantian satu durasi waktu : satu tahun.  Ada lagi kelompok yang tak tahu atau tak mau tahu atau tak perduli dengan waktu. Manusia yang tidak sadar waktu adalah mereka yang menjalani hidupnya mengalir apa adanya, jauh dari jamahan tehnologi dan gaya hidup modern.  Tantangan dan problem kehidupan hanya seputar diri, keluarga dan komunitasnya. Mereka bahkan mungkin tidak mengenal apa itu detik, menit, jam, minggu, bulan dan tahun. Tidak ada jam dan kalender di dinding rumahnya. Apa itu tahun baru dengan segala eforianya, tidak pernah terlintas di benak mereka.

Setiap manusia mempunyai beban persoalan sendiri-sendiri yang butuh pelepasan sesuai dengan cara yang diinginkannya . Cara apapun yang dipilih tentunya itu yang dianggap paling memuaskan dan paling bisa memberi kebahagiaan batin. Setelah sepanjang tahun menjalani kehidupan yang keras dan kejam, manusia butuh keseimbangan. Selebrasi tahun baru – dengan cara apapun – adalah media untuk mencapai keseimbangan.

Menurut saya, yang paling bahagia adalah manusia yang tidak mengenal jangka waktu dan tidak dibelenggu oleh waktu dan tenggat waktu. Setiap saat, setiap momen, setiap hari adalah hari-hari baru dengan semangat baru. Hidup adalah persinggahan sementara manusia ke bumi. Bagaimana kita mau mengisi perjalanan kunjungan  itu tergantung pada diri kita masing-masing. Waktu adalah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan. Kita tidak bisa memperpanjang waktu yang diberikan pada kita, tetapi kita dapat menggunakannya dengan bijaksana ataukah sebaliknya mengisinya dengan hal-hal yang  sia-sia. Keputusan sepenuhnya ada di tangan kita.

Apa pun cara yang dipilih untuk menghabiskan akhir tahun 2011 saya berharap semoga itu bisa mendatangkan kebahagiaan dan keseimbangan hidup bagi anda semua. Akhirnya saya ucapkan : Selamat Tahun Baru 2012 ! God Bless Us !

Untuk  menyambut Tahun Baru 2012, lagu Enya – ONLY TIME – saya rasa cocok untuk menemani perenungan soal waktu dan perjalanan hidup manusia.