For safety is not a gadget but a state of mind. ~Eleanor Everet   (quotegarden.com)

Pagi-pagi tadi sekitar jam 5 lebih suami saya sms supaya mengingatkan anak-anak  kalau berangkat sekolah jangan lupa bawa SIM karena depan Pasar Kleco ada razia. Sms itu saya jawab : mosok baru jam 5 pagi kok sudah mulai dinas, mbok ya agak siang dikit kenapa to ? Kata suami saya ternyata yang dirazia itu semua kendaraan bermotor yang lewat disitu dan yang ditanya bukan sekedar kartu identitas tapi polisi juga menggeledah isi tas pengendara motor trus pak polisinya yang tugas  bawa senjata lengkap. Wuih ada apa ini? Hal-hal seperti ini yang membuat hidup menjadi tidak nyaman.

Selama ini saya terbiasa dengan irama hidup yang slow , alon-alon asal kelakon (biar lambat asal tercapai tujuan) dan adem ayem khas Solo. Tiba-tiba saja ketenangan itu terganggu. Rutinitas hidup yang relatif aman tanpa banyak gejolak  sudah dinikmati bertahun-tahun oleh masyarakat kota Solo dan sekitarnya paska kerusuhan Mei 1998.  Nampaknya peristiwa bom bunuh diri Minggu, 25  September 2011 lalu berimbas juga pada stabilitas kenyamanan dan rasa aman warga .

Ternyata benar ‘sesuatu’ yang sudah dianggap sudah ada dengan sendirinya ,  begitu itu terganggu atau hilang baru dirasakan betapa ‘ sesuatu’  itu sungguh berarti. Sesuatu yang dianggap sebagai taken for granted , namun saat ini  menjadi sangat mahal adalah keamanan. Karena  gangguan atau ancaman terhadap rasa aman saat ini tidak hanya menyerang orang-orang yang tinggal di wilayah konflik atau perang, tapi juga mengancam mereka yang berdiam di daerah yang tidak sedang berperang– seperti kejadian di Solo. Biasanya orang yang terbiasa tinggal di wilayah dengan kondisi keamanan yang stabil begitu diguncang dengan teror akan mengalami shock dan trauma, karena fenomena kekerasan bukan merupakan hal yang biasa dilihat dan dialami. 

Apapun motivasi di balik  kekerasan dan teror – entah itu ideologi, identitas,  politik atau apa saja –  yang jelas  tindakan itu telah mengganggu rasa nyaman dan aman masyarakat. Khusus untuk Kota Solo, saya berharap semoga saja keadaan  ini hanya sementara dan kondisi segera cepat pulih seperti biasanya. Dan saya yakin gejolak ini tidak sampai menular ke masyarakat di bawah atau istilahnya akar rumput. Sekalipun beban hidup semakin menghimpit, kehidupan sosial masyarakat tetap  berjalan seperti biasanya, mereka   tetap rukun dan happy-happy menjalani hidupnya.

Sebagai bagian dari rakyat biasa, saya juga bersikap enjoy-enjoy saja menjalani hidup ini. Saya tidak mau hidup yang sudah berat ini ditambah lagi dengan membayangkan hal-hal yang bisa membuat orang jadi parno alias paranoid. Bersikap dan bertindak hati-hati tetap perlu, tapi saya tidak mau situasi dan kondisi pengamanan oleh aparat Negara itu mengganggu kenikmatan dan kebahagiaan saya menjalani rutinitas kegiatan sehari-hari.

Tentang rasa aman, pada akhirnya semua itu kembali pada bagaimana manusia mampu mengontrol pikirannya…for safety is not a gadget is a state of mind. State of mind atau kondisi pikiran disini yang dimaksud adalah  cara berpikir yang positif. Namun Budha mengatakan  pikiran positif perlu diikuti dengan perasaan  dan tindakan yang positif ( Positive thought is not enough. There have to be positive feelings and positive actions). Jadi dalam hal mengatasi kecemasan atau hilangnya rasa aman ,khususnya yang disebabkan oleh ancaman kekerasan,  cara paling efektif adalah dengan berpikiran positif atau optimis bahwa semua itu akan segera berlalu. Pikiran positif semacam ini akan menumbuhkan perasaan yang positif sehingga rasa takut dan cemas akan terusir dan pada akhirnya ini semua akan mendorong orang untuk bertindak positif pula. Untuk bisa berpikir positif, berperasaan positif dan bertindak positif orang harus bisa  mengosongkan pikirannya dari segala bentuk dendam dan rasa sakit hati. Benar kalau dikatakan cara memutus siklus kekerasan adalah dengan memutus rantai kekerasan itu yakni membunuh pikiran yang bisa menumbuhkan perasaan dendam dan keinginan menuntut pembalasan. Kalau orang sudah  bisa  mengosongkan pikirannya dari rasa dendam, maka yang diam di hati hanya rasa aman dan lepas dari kekhawatiran.  Inilah yang dimaksud rasa aman yang sejati ada di  keadaan pikiran manusia, bukan ada di perangkat atau sistem keamanan. Jadi…be happy,enjoy life, no matter how hard it may seem! When life gives you a thousand reasons to cry, show the world that…You have million reasons to smile (kata-kata ini saya dapat di internet tapi lupa sumbernya dari mana).

Untuk menemani akhir pekan ini saya mau melupakan segala carut marut kehidupan bangsa dengan menikmati lagu barunya Jason Mraz   “ The World as I See It” yang bercerita soal optimisme anak muda yang berkhayal tentang keluarga yang  ingin dibangunnya dan yang memandang dunia masih sebagai tempat yang nyaman untuk ditinggali. Memang hidup didampingi dan dikelilingi dengan orang-orang yang saling mengasihi akan membuat dunia ini selalu tampak  indah. Saya  ingin melihat Kota Solo dan dinamika kehidupan warganya sebagaimana Jason Mraz berdendang dalam lagunya ini :

The world as I see it, is a remarkable place

A beautiful house in a forest, of stars in outer space.

From a birds eye view, I can see it has a well-rounded personality

From a birds eye view, I can see we are family.

Ini lagu “THE WORLD  AS  I  SEE   IT ” .  Semoga lagu ini  bisa menyuntikkan semangat untuk melihat dunia sekeliling kita dengan penuh rasa optimis. Yah, apapun yang terjadi …. life must go on and God be with us. Let’s enjoy the weekend !

Coretan akhir pekan , Sabtu 1 Oktober 2011.