21 April 2011

When we lose the right to be different, we lose the privilege to be free.  (Charles Evans Hughes- joyofquotes.com)

it is me

 dedindoel.blogspot.com

Authenticity (otentisitas) adalah sebuah istilah tehnis dalam filosofi eksistensialis, dan juga digunakan dalam filosofi seni dan psikologi. Authenticity menggambar kan tingkatan kekuatan pribadi, spirit, dan karakter seseorang dalam menghadapi pengaruh tekanan lingkungan eksternal. Dalam psikologi, authenticity menunjukkan kehendak kuat untuk hidup menurut kata hati (inner being) ketimbang tekanan dan tuntutan masyarakat (Wikipedia)

Pendeknya , authenticity bicara tentang bagaimana menjadi diri sendiri: berbuat , berperilaku dan berpenampilan sesuai prinsip yang diyakini atau menurut kata hati, bukan karena tekanan lingkungan, bukan didikte oleh standard nilai yang ditentukan lingkungan (sosial, budaya dan politik).

Sepertinya menjadi otentik adalah hal yang sederhana dan mudah. Tapi tidak demikian bagi perempuan. Kalau menjandi otentik itu adalah “encouragement to be who you were born to be and do what you were born to do , apakah perempuan punya privilege untuk menjadi dirinya sendiri, mewujudkan apa yang menjadi impiannya. Tampil menjadi seorang seperti yang diinginkan kata hatinya, bukan citra perempuan yang didikte atau diprogram oleh kekuatan social di luar dirinya. Berapa banyak perempuan di lingkungan terdekat kita yang benar-benar mempunyai keberanian melawan nilai, kehendak dan aturan yang dipaksakan oleh lingkungan.

Kisah hidup Kartini adalah kisah  perjuangan keras  perempuan untuk menjadi pribadi yang otentik. Kartini bercita-cita meraih pendidikan tinggi ke negeri Belanda. Dia seorang perempuan cerdas, mempunyai ide dan gagasan yang jauh melampaui jamannya. Perempuan yang kritis dengan kondisi sosial, ekonomi, dan politik masyarakatnya dan punya kehendak kuat untuk memperbaiki nasib kaum perempuan dan rakyat Pribumi pada umumnya. Kartini adalah seorang perempuan demokratis dan feminis di zaman perempuan-perempuan Indonesia lainnya  belum mengenyam bangku pendidikan. Tapi sejarah mencatat Kartini harus membunuh  impiannya meraih pendidikan tinggi dan tunduk pada tuntutan nilai-nilai sosial budaya  saat itu. Tempat seorang perempuan pertama-tama adalah di rumah , menjalankan fungsi domestik memelihara, mengatur, menjaga stabilitas dan harmonisasi keluarga. Peran ke luar,  ke ranah publik diprioritaskan bagi anak laki-laki. Jika perempuan dibutuhkan untuk mengemban fungsi  memelihara dan merawat keluarga, maka fungsi yang lain harus diabaikan

Berikut kutipan pertentangan batin Kartini saat ia harus memilih mengejar impiannya sekolah ke Belanda atau menjalankan perannya sebagai  anak perempuan yang berbakti pada ayahnya.

Ampunilah anak perempuan yang seorang ini, Stella, kalau sekali waktu , apabila disuguhkan kesempatan baginya untuk memenuhi hasrat hatinya, yang mana kelak ia dapat memberikan berkat pada orang-orang lain, tapi ia menolak kesempatan itu, karena hatinya tiada dapat melepaskan diri dari seorang ayah, yang seumur hidupnya menjadi kekasih dan kebaktiannya; yang mana ia sangat berterima kasih atas segala yang telah dilakukan untuknya; dan yang kini lebih dari yang sudah-sudah, karena kesehatannya yang buruk dan sakit-sakitnya dan yang kini lebih dari yang sudah-sudah membutuhkan kebaktian dan cinta anak perempuannya ini. Stella, aku ini juga anak, anak perempuan daripadanya, bukan hanya seorang wanita, yang ingin menyerahkan seluruh jiwa dan raganya, kepada garapan indah agung yang memberi guna dan rahmat kepada massa; aku pun seorang anak dengan ikatan-ikatan batin daripada cinta-kasih yang paling lembut serta perasaan syukur yang paling hangat pada seorang ayah yang telah  tua dan memutih, tua dan putih disebabkan memelihara anak-anaknya, …. Stella, kau yang mengenal cintaku yang agung kepadanya, dan disamping itu cintaku kepada apa yang aku pandang sebagai panggilan kita, serta kemesraanku kepada saudari-saudariku, tentu dapat memahami, betapa beratnya perjuangan batin (tweestrijd) sekiranya aku harus memilih antara dua : ayahku, perpisahan dengan adik-adikku, melepaskan sebagian terbesar dari karya dutaku ataukah persatuan saudari-saudariku, menyerahkan seluruh kehadiranku pada tugas kita. ……

Indah dan mulia tugas yang memanggil kita untuk berjuang bagi kepentingan agung, bekerja buat kemajuan wanita Pribumi yang tertindas, peningkatan rakyat Pribumi, pendeknya menjadi berarti bagi masyarakat, bekerja bagi keabadiaan; tapi tiadalah aku bisa bertanggungjawab kepada nuraniku, pabila aku serahkan diriku kepada orang-orang lain itu, sementara itu Ayahku, yang paling dahulu berhak atas diriku, kubiarkan menderita dan sakit-sakitan, sedangkan ia membutuhkan aku.

Kewajibanku sebagai anak tidak boleh aku kurangi, tapi pun tidak kewajiban-kewajibanku terhadap diriku sendiri harus aku tunaikan, terutama sekali tidak kalau pabila perjuangan itu bukan saja berarti kebahagiaan sendiri, tapi pun berguna bagi yang lain-lain. Soalnya sekarang adalah memenuhi dua tugas besar yang bertentangan satu dengan yang lain, dan itu sedapat mungkin harus diserasikan. Pemecahan masalah ini ialah, bahwa untuk sementara ini aku membaktikan diri kepada ayahku…

(surat Kartini kepada Estella Zeehandelaar, 11 Oktober 1901 dalam Pramudya Ananta Toer “Panggil Aku Kartini Saja :2010)

Kartini adalah perempuan dari keluarga bangsawan yang hidup di masa Feodalisme Jawa masih mengakar kuat. Perempuan seperti Kartini dapat dikatakan tidak  memiliki otoritas atas tubuh dan masa depannya sendiri. Berikut pendapat Kartini tentang kedudukan perempuan dalam tatanan Feodalisme Jawa saat itu :

Kalau memang benar pada diri kami ada sifat yang dapat membentuk anak laki-laki yang cakap dan tangkas, mengapa kami tidak boleh menggunakannya untuk meningkatkan diri menjadi wanita yang demikian pula?….Dan tidak bergunakah perempuan cakap dalam masyarakat?…Kami perempuan Jawa terutama sekali wajib bersifat menurut dan menyerah. Kami harus seperti tanah liat yang dapat dibentuk sekehendak hati

(surat kepada Nyonya M.C.E Ovink-Soer, Agustus 1900 dalam Dri Arbaningsih “Kartini , dari sisi lain : Melacak Pemikiran Kartini tentang  Emansipasi Bangsa“. 2005)

Bagi Kartini cara ampuh untuk membebaskan perempuan dari kungkungan Feodalisme Jawa  adalah melalui pendidikan.

Perempuan sebagai pendukung Peradaban! Bukan , bukan karena perempuan dianggap cakap untuk itu, melainkan karena saya sendiri juga yakin sungguh-sungguh, bahwa dari perempuan mungkin akan timbul pengaruh besar, yang baik atau buruk akan berakibat besar bagi kehidupan : bahwa dialah yang paling banyak dapat membantu meninggikan kadar kesusilaan manusia…

Dari perempuanlah manusia itu pertama-tama menerima pendidikan. Di pangkuan perempuanlah seseorang mulai belajar, merasa, berpikir, dan berkata-kata….Dan bagaimanakah ibu-ibu Bumiputera dapat mendidik anak-anaknya, kalau mereka sendiri tidak berpendidikan?

(surat kepada Nyonya M.C.E Ovink-Soer, 2 November 1900 dalam Dri Arbaningsih:2005)

…Ciptakanlah ibu-ibu yang cakap serta berpikiran, maka tanah Jawa pasti akan mendapat pekerja yang cakap. Peradaban dan kepandaiannya akan diturunkannya kepada anak-anaknya. Anak-anak perempuannya akan menjadi ibu pula , sedangkan anak-anak yang laki-laki kelak pasti akan menjadi penjaga kepentingan bangsanya…

(surat kepada Prof. G.K. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902 dalam Dri Arbaningsih)

Kini, hari ini 21 April 2011 , hampir satu abad lebih setelah surat-surat Kartini ditulis, kolonialisme Belanda sudah lama meninggalkan bumi pertiwi , 66 tahun sudah bangsa Indonesia mengenyam kemerdekaannya. Perempuan-perempuan Indonesia memiliki kebebasan penuh untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya, berkelana ke pelosok Negara manapun untuk mewujudkan mimpinya. Banyak perempuan cerdas dengan gelar kesarjanaan dan profesional tertinggi : Doktor, Profesor, Politisi, Birokrat dan sebagainya. Pertanyaannya : apakah mereka telah menjadi perempuan yang merdeka dan memiliki otoritas penuh untuk mengambil keputusan menyangkut dirinya, apa yang baik dan benar menurut prinsip dan kata hatinya? Atau masihkah para perempuan Indonesia dibatasi akses dan control atas tubuh, pikiran, perilaku, dan penampilan diri oleh nilai dan tatanan feodalisme bentuk baru ?

Apa pun putusan yang dipilih oleh perempuan-perempuan Indonesia, semoga saja itu merupakan kehendak bebas perempuan, merupakan pilihan yang terbaik, bermanfaat dan nyaman lahir dan batin serta sesuai dengan kata hatinya. Bravo Perempuan Indonesia !

Lagu R E F L E C T I O N yang dinyanyikan Christina Aguilera  ini cocok untuk menemani renungan kita tentang pergulatan perempuan untuk menemukan eksistensi dirinya.

Sebagai penutup mari kita baca dan renungkan kumpulan kata-kata bijak tentang authenticity berikut ini :

To be nobody but myself – in a world which is doing its best, night and day, to make me somebody else – means to fight the hardest battle any human can fight, and never stop fighting. (e.e. cummings- joyofquotes.com)

Don’t let anyone tell you that you have to be a certain way. Be unique. Be what you feel.
(Melissa Etheridge- joyofquotes.com)

Find your true path.  It’s so easy to become someone we don’t want to be, without even realizing it’s happening.  We are created by the choices we make every day.  And if we take action in order to please some authority figure, we’ll suddenly wake up down the road and say, ‘This isn’t me.  I never wanted to be this person (Bernie Siegel, MD)