To be seventy years young is sometimes far more cheerful and hopeful than to be forty years old (Oliver Wendell Holmes, Jr- wisdomquotes.com)

It is easier to be wise for others than for ourselves (Francois De La Rochefoucauld –  inspirationalquates.com)

Pada tanggal 30 Juli 2011  bertambah satu tahun umurku. Yah waktu berjalan merambat pelan. Hampir 50 tahun tak terasa perjalanan hidupku. Bertambah umur di  usia akhir 40 an membuatku merasa gamang. Ternyata tanpa disadari aku sudah tua  bin tuwir. Gimana mau  sadar, perasaan selama ini   umurku serasa masih 30 an tidak tahunya sudah menjelang era golden age.

Di ultahku ini aku mau melakukan refleksi dan sekaligus evaluasi atas perjalanan hidupku dan apa yang telah kudapatkan selama ini? Bukan dari sisi materi ,  karena kalau ukurannya materi sepertinya tidak ada yang bisa kupamerkan. Maka aku coba mengukur dari sisi nonmateri yakni kebijaksanaan. Orang bilang tambah umur tambah bijaksana atau orang Jawa bilang tambah sumeleh. Apa aku tambah bijaksana ya? Ukuran bijaksana itu apa  dan bagaimana cara untuk menjadi bijaksana?

WIKIHOW memberikan jawaban semua pertanyaan itu. Kebijaksanaan tidak bisa diperoleh hanya dari membaca buku atau didapatkan lewat proses instan melainkan melalui proses pembelajaran yang butuh waktu, pengalaman, dan keinginan untuk berpikir terbuka tentang dunia dan manusia penghuninya. Untuk bisa berpikir terbuka orang harus membersihkan pikirannya dari segala prasangka dan terus menerus merefleksi dan mempertanyakan ide dan nilai-nilai yang diyakininya. Inti dari kebijaksanaan adalah kondisi dimana seseorang bersikap dan berperilaku tenang dan berpikir sebelum bertindak atau bahasa Jawanya “ora grusa grusu”. Seiring berjalannya waktu, orang yang bijaksana akan semakin tinggi dan dalam ilmu  pengetahuannya namun dia tidak akan menyimpan ilmunya sebagai milik pribadi; sebaliknya dengan senang hati dia akan membagikan ilmunya agar orang lain juga bertumbuh pemikiran dan wawasannya.

Wikihow menunjukkan jalan atau cara menjadi bijaksana,  di antaranya adalah:

1. Kenalilah diri sendiri (know yourself)

Lebih mudah mengenali segala sesuatu dan orang lain dibanding mengenali diri sendiri. Untuk tahu siapa dirinya, seseorang harus menjelajah ke dalam dirinya untuk merenungkan  apa yang menjadi ide, keyakinan, opini, bias-bias, dan prasangka yang ada di pikiran dan hatinya. Tanpa mengetahui dan menerima apa kekuatan dan kelemahannya, seseorang sulit untuk menjadi bijaksana. Dengan mengenali diri sendiri, orang akan bisa menerima kelemahan dan kesalahannya, dapat bertumbuh dan  memaafkan dirinya sendiri.

2. Sadar kalau hanya memiliki pengetahuan sedikit (realize that you know nothing)

Orang yang paling bijaksana adalah orang yang menyadari kalau sesungguhnya mereka hanya mempunyai sedikit pengetahuan meskipun telah belajar dan melakukan refleksi bertahun-tahun. Semakin orang berpikir tentang orang, segala hal, dan peristiwa, semakin dia paham bahwa masih  ada banyak hal yang perlu dipelajari. Penerimaan akan keterbatasan pengetahuan menjadi kunci menuju kebijaksanaan. Orang yang bijaksana berbeda dengan pakar atau expert. Pakar adalah orang yang pandai (dibuktikan dengan sertifikat) atau memiliki keahlian di bidang tertentu. Pakar belum tentu orang yang bijaksana. Orang bijaksana mempunyai kemampuan melihat gambaran kehidupan secara lebih luas dan dengan responsif menanggapi segala hal yang terjadi di diri dan lingkungannya. Menjalani kehidupan dengan tenang karena tahu dan sadar tujuan hidupnya, bisa menerima dan berdamai serta merasa nyaman dengan realitas apa pun yang dialaminya.

3. Tidak ada akhir dalam proses pembelajaran (accept that there will never be an end to learning)

Proses belajar tidak berhenti saat meraih gelar sarjana. Ide pembelajaran lebih luas ketimbang teksbook dan apa yang diajarkan guru dan dosen. Belajar adalah proses terus menerus  mempertanyakan segala hal yang terjadi dalam kehidupan. Proses belajar akan berhenti kalau otak kita memutuskan untuk berhenti atau menolak untuk bertumbuh dengan menutup perspektif atau wawasan apa pun selain ide-ide yang kita miliki dan yakini. Ide dan pemikiran sendiri yang paling benar, ide dan pemikiran orang lain salah.

4. Luangkan waktu untuk kontemplasi (take time to contemplate)

Kebijaksanaan tidak bisa diperoleh secara cepat dan tidak bisa tumbuh dari pikiran yang dipenuhi budaya pop dan cara hidup serba cepat dan instant. Perlu waktu khusus untuk lepas dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari agar dapat berpikir dan merefleksikan apa saja yang telah dilakukan dan terjadi dalam hidup seseorang dan  dunia sekelilingnya. Jika tidak dibiasakan berkontemplasi, orang akan cenderung bertindak reaktif bukan proaktif, malas berpikir kontemplatif dan tidak mau tahu dunia sekitar dan memilih bersenang-senang mengikuti arus kehidupan.

Setelah membaca tulisan  Wikihow ini aku menyimpulkan ternyata aku tahu sedikit sekali tentang ilmu kehidupan. Untuk menjadi bijaksana bukan hal yang mudah dan sederhana. Tidak ada tujuan akhir bernama kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah proses menjadi dan menjadi secara terus menerus, proses pembelajaran sepanjang kehidupan manusia. Dan otak manusia ternyata merupakan space yang sangat luaaas sekali.  Diisi dengan ilmu, buku-buku, ide dan ajaran apa pun tidak akan pernah menjadi penuh. Untuk menjadi bijaksana dan bisa melihat cakrawala kehidupan yang sangat luas dan indah, kita tidak bisa menutup pintu ide dan pikiran. Sekali orang puas dengan hanya satu visi dan satu perspektif sulit baginya  untuk menuju bijaksana. Kehidupan yang multidimensi apabila dilihat  dari kaca mata satu dimensi akan kehilangan kekayaan warna dan maknanya.

Akhirnya, dengan bertambahnya usia satu tahun di hari ini bertambah lagi pemahamanku akan ilmu kehidupan.   Menjadi tua tidak harus otak atau cara berpikir ikut menjadi jaman dulu atau ‘jadul’. Hidup di usia berapa pun tidak menjadi masalah sepanjang kita mengisi kehidupan dengan pandangan terbuka dan mencintai kehidupan. Hidup dan kehidupan nampak indah dan warna-warni kalau kita melihatnya dengan mata dan hati penuh ceria dan bahagia. Bertambah tua itu pasti, tapi menjadi bijaksana adalah suatu pilihan. Dan aku memilih menjadi bijaksana. Ini harapan dan doaku. Semoga Tuhan mengabulkan. Amin.

Lagu  OLD and WISE dari band rock progresif Inggris di tahun 1975-1990 – The Alan Parsons Project -cocok sekali untuk mengiringi perenungan tentang menjadi  tua. Saat semakin tua namun semakin bijaksana, segala hal akan diterima dan dijalani tanpa beban, ringan dan nyaman.

And oh, when I’m old and wise
Bitter words mean little to me
Autumn winds will blow right through me
And someday in the midst of time
When they asked me if I knew you
I’d smile and say you were a friend of mine
And the sadness would be lifted from my eyes
Oh, when I’m old and wise


Gambar : thechronicleofdianathetruth. blogspot. com