Privasi merupakan salah satu unsur  yang dilindungi dalam Hak Asasi Manusia. Privasi adalah kemampuan seorang individu atau kelompok untuk mengasingkan diri mereka atau melindungi informasi tentang diri mereka yang bersifat pribadi agar tidak dikonsumsi publik. Privasi kadang-kadang terkait dengan anonimitas, keinginan untuk tak dikenal di ranah publik. Privasi biasanya menyangkut sesuatu yang bersifat sangat pribadi atau hal yang sensitif.  Sedangkan privasi fisik dapat didefinisikan sebagai mencegah penyusupan ke dalam ruang fisik seseorang atau kesendirian atau mencegah akses tidak sah ke rumah seseorang (Wikipedia). Singkatnya, privasi adalah “the state or condition of being free from being observed or disturbed by other people (Georgina Morse)

Makna privasi terkesan sangat individualis karena erat berkaitan dengan hak-hak pribadi individu yang tidak boleh diganggu orang lain sehingga privasi dianggap konsep yang sangat Barat. Meskipun makna atau hal-hal apa saja yang masuk dalam privasi bisa berbeda-beda di tiap-tiap budaya, namun ada hal-hal substansial yang universal misalnya menyangkut privasi fisik. Setiap orang ingin dirinya secara fisik terlindungi dari gangguan  orang-orang yang tidak dikenal, ingin agar wilayah tempat tinggal pribadinya tidak dimasuki oleh sembarang orang, ingin aktivitas pribadinya tidak diganggu orang yang tidak dikenal.

Di masyarakat tradisional  dimana atas nama kebersamaan orang merasa berhak dan wajib tahu apa dan bagaimana orang lain , bukan sekedar karena keusilan atau ingin tahu urusan orang lain namun lebih karena keperdulian dan ketertiban sosial,  privasi akan dilihat sebagai bentuk perilaku sombong. Orang yang menutup keingintahuan tetangga akan apa yang berlangsung di dalam rumahnya, siapa orang yang datang ke rumahnya, siapa kekasihnya, dan membatasi akses tetangga untuk berkunjung ke rumahnya akan dipandang aneh, asosial sehingga dikucilkan dari interaksi sosial warga.  Di komunitas pedesaan yang bertahun-tahun hidup dalam interaksi yang guyub, yang orang-orangnya lahir, tumbuh dewasa dan sampai tua disitu,  sehingga mengenal dengan jelas satu sama lain ,  tuntutan akan perlunya privasi akan dianggap aneh.

Berbeda halnya dengan masyarakat urban atau pinggiran kota, seperti saya yang tinggal di perumahan yang terbuka bebas untuk dimasuki oleh siapa pun,  privasi itu menjadi sangat  penting. Orang-orang tidak diundang yang biasa mengganggu sangat banyak mulai dari pengamen dan pengemis yang di hari-hari tertentu jumlahnya bisa sampai 10 orang per hari. Yang bikin jengkel bukan jumlah uang yang diminta, tapi bolak-balik ngasih uang receh itu yang bikin senewen, yah terpaksa cari aman tutup pintu. Pengganggu lainnya adalah sales yang sekarang ini semakin kurang ajar saja, mereka cenderung memaksa orang untuk membeli produknya. Sekalipun pintu sudah tertutup rapat mereka tetap berani mengetuk pintu atau pencet bel. Apakah memang mereka ini dilatih teknik pemasaran yang coersive dan manipulatif  semacam itu oleh trainernya?  Gangguan  lainnya datang dari para penjual makanan yang sekarang ini  keliling naik sepeda motor , barang yang dijual mulai dari jual ya**lt (merk minuman), susu segar, sayuran, lauk pauk dll. Sekali saya beli barang jualan mereka,  seterusnya akan  dicatat sebagai pelanggan dan  harus siap setiap saat ditawari.  Kalau pintu tertutup harus  siap membukakan pintu karena mereka tak segan untuk mengetuk pintu atau kalau pagar tertutup,  mereka  teriak keras-keras memanggil nama pemilik  rumah :  “ Bu Polan….Bu Polan…sayurnya bu”. “ Bu Joko….Bu Joko….susu segarnya bu”. Yang bikin emosi  terkadang mereka ini datang tidak mempertimbangkan waktu,  seperti saat jam tidur siang. Huh…benar-benar bikin suueebel ! Kalau sudah begini kadang ingin tinggal di perumahan model cluster yang dipagari dan ada satpamnya itu. Tapi kalau tinggal di kompleks semacam itu ,  apakah masih bisa ngobrol dan ketawa bareng   ibu-ibu warga perumahan seperti yang selama ini saya lakukan?   Apa bisa kalau  pas kehabisan bumbu dapur bisa langsung minta ke tetangga? Kalau tiap orang tersekat-sekat dan sibuk di cangkang (rumah)nya masing-masing terus tidak bisa sekedar duduk-duduk ngobrol dan ketawa bareng-bareng , bisa-bisa saya disitu jadi cepat linglung. Selain itu, apa  mereka yang tinggal di rumah dengan pengamanan canggih : dijaga satpam, kamera CCTV, pagar tembok seperti benteng terus terjamin keamanan dan privasinya?

Saya jamin jawabnya pasti tidak. Karena ancaman terhadap privasi saat ini tidak hanya secara fisik yang nyata dan riil tapi juga bisa lewat dunia maya lewat tehnologi komunikasi. Rumah yang kayak benteng mungkin susah diakses sales atau pedagang keliling atau pengamen dan pengemis, namun jelas tidak bagi sales yang menawarkan produknya lewat telepon, sms, atau internet. Berita yang hangat di media massa tentang penipuan dan penyedotan pulsa lewat telepon dan HP membuktikan betapa privasi di abad digital, abad internet merupakan  sesuatu yang susah didapatkan. Ancaman terhadap privasi di era internet tidak hanya menyangkut privasi fisik tapi juga menyangkut kerahasiaan informasi atau data pribadi.  Sekarang ini data pribadi apa yang tidak bisa dicari lewat internet. Setiap orang pasti memiliki paling tidak satu kartu identitas, kalau informasi tentang identitas itu disimpan dan dipublikasikan lewat internet jelas siapa saja akan bisa memanfaatkan data pribadi itu untuk tujuan apa saja. Terlebih lagi saat ini banyak  orang yang demam facebook, coba kita lihat apa yang ditampilkan disitu – mereka tidak segan-segan menampilkan identitas pribadi dan  koleksi fotonya.

Masyarakat Barat dikenal sangat memandang tinggi perlunya perlindungan privasi. Mereka sadar betul akan hak-hak menyangkut perlindungan privasinya karena itu mereka juga menyadari kewajiban untuk menghargai privasi orang lain. Menghargai privasi orang lain inilah yang nampaknya belum menjadi etika perilaku kita. Secara teknologi kita tidak ketinggalan dengan masyarakat maju, tapi aplikasi tehnologi ini tidak diikuti dengan perubahan mindset atau cara berpikir dan perilaku. Akibatnya, tehnologi apa pun yang diaplikasikan  tidak akan dapat lepas dari warna kultur Indonesia. Orang Indonesia yang senang bergaul, bersosialisasi, dan ngobrol dengan adanya facebook, twitter, dll dalam bahasa Jawanya seperti  “tumbu oleh tutup” atau panci dengan tutupnya alias pas dan klop banget. Segala macam tetek bengek dicurhatkan di dunia maya. Mereka tidak menyadari ada wilayah privasi yang tidak patut untuk dipublikasikan. Tidak adanya pemahaman akan apa itu privasi nampak nyata dari apa yang dicurahkan orang di facebook atau blog.

Di sisi lain kesadaran akan perlunya menghargai  privasi orang  juga kurang. Akibatnya, mereka tak ubahnya orang yang usil melanggar privasi orang seenaknya dengan memanfaatkan tehnologi. Seperti waktunya jam istirahat siang  menelpon rumah orang  untuk menawarkan dagangan atau meraup keuntungan dengan melakukan penipuan lewat HP.  Bahkan ada orang tak dikenal yang menelepon untuk sekedar curhat masalah pribadinya. Ini kejadian yang benar-benar saya alami  kira-kira sebulan yang lalu.   Siang itu sekitar jam 2,  telepon rumah berdering pas diangkat ada suara laki-laki yang mengaku dulu tetangga saya yang sekarang katanya  tinggal di Papua, tapi dari nada suaranya saya nggak yakin kalau saya kenal orang ini. Pertama-tama penelepon ini tanya kabar keluarga saya, setelah basi basi sebentar akhirnya dia cerita kalau sekarang dia sudah sukses,  sudah lulus S2 dan kerja di salah satu instansi pemerintah, tapi di usia 30an dia itu bingung karena masih jomblo dan dia minta tolong saya untuk mencarikan jodoh. Dia tanya apa saya punya adik perempuan, keponakan atau kenalan yang masih usia 30an yang bisa dijadikan istri. Saat dia bilang meminta tolong untuk  dicarikan jodoh,  saya hampir tak kuat  nahan ketawa. Ada-ada saja  opo tumon (bahasa Indonesianya apa ya?)  kenal aja nggak,  eh jauh-jauh dari Papua ada orang tak dikenal yang curhat bingung masih jomblo dan pengin cepat punya istri. Memangnya saya buka biro jodoh? Aya-aya wae.  Kejadian ini  menimbulkan pertanyaan di benak saya : darimana orang itu tahu nama, alamat , nomor telepon dan data pribadi keluarga saya? Jawabnya darimana lagi kalau bukan dari internet. Saya punya facebook yang tidak aktif  dan juga blog  yang disitu tidak secara detail menampilkan identitas pribadi saya. Satu-satunya web yang biasa menampilkan data pribadi  secara  detail adalah kantor atau tempat kerja. Jadi dapat dipastikan dari situlah orang bisa tahu apa dan siapa seseorang. Menampilkan profil sumber daya manusia untuk kepentingan pencitraan lembaga saat ini sudah menjadi hal yang lazim dan  sepanjang data profil itu dimanfaatkan untuk tujuan positif  nggak jadi masalah , yang ditakutkan kalau dari data itu ada orang yang berniat tidak baik atau paling tidak timbul niat usil seperti menelepon sekedar untuk curhat minta tolong dicarikan istri.

Dari berbagai fenomena terkait persoalan privasi di era internet ini membuktikan kebenaran teori Karl Marx bahwa infrastruktur berkembang lebih cepat ketimbang suprastrukturnya. Tehnologi berkembang lebih cepat tanpa diiringi perkembangan cara pikir, nilai, perilaku dan kelembagaan yang kompatibel dengan kemajuan tehnologi tersebut. Melihat begitu kompleksnya dampak sosial dari interaksi manusia lewat tehnologi internet hal yang mendesak untuk dipikirkan bersama adalah menetapkan aturan atau hukum yang dapat menekan peluang kejahatan virtual dan juga membangun nilai dan kelembagaan yang bisa menopang  kemajuan bentuk interaksi manusia di dunia maya.

Gambar :countdown.org dan blippit.com