Akhir-akhir ini media cetak maupun elektronik dipenuhi dengan berita yang menyesakkan dada dan membikin orang jadi ngeri dan was was. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi bertubi-tubi mulai dari orang mabuk yang setir mobil kemudian menyasar  dan menewaskan 9 orang di  sekitar Tugu Tani Jakarta sampai  kecelakaan bis yang beruntun terjadi di beberapa kota. Tindak perampokan disertai dengan kekerasan seksual di angkutan kota di Jakarta. Pembunuhan luar biasa sadis yang dilakukan seorang gay , pembunuhan satu keluarga di Kuta Bali yang dilakukan oleh supir pribadi yang masih kerabat korban, dan kasus kekerasan yang membikin saya heran dan tak habis pikir adalah usaha pembunuhan yang dilakukan seorang anak usia belasan terhadap temannya karena dipicu  persoalan pencurian HP. Anak usia 12 tahun membunuh teman sebayanya usia 13 tahun dengan cara menusuk berkali-kali dengan pisau sepanjang 30 sentimeter , beberapa luka tusuk tembus hingga ke punggung ((jpnn.com- dan Kompas.com ). Dan peristiwa kekerasan yang baru saja terjadi adalah bentrok antar preman di Rumah Sakit Pusat TNI  Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta (Kompas.com )

Tindak kekerasan satu belum surut di ingatan disusul dengan kekerasan lagi…lagi….dan lagi. Oh my God, what’s wrong with my country? Mengapa kita menjadi seperti ini? Kenapa orang gampang tersulut emosinya dan lebih memilih jalan kekerasan dalam menyelesaikan konflik? Mengapa wajah Indonesia semakin sangar dan garang? Masihkah kita pantas  dikenal  sebagai bangsa yang religius, ramah dan penuh senyum?

Tindak kekerasan adalah manifestasi dari naluri hewani manusia. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan paling tinggi derajadnya karena manusia dikarunia akal pikiran dan nurani yang berguna untuk mengontrol agar naluri hewaninya tidak tersalurkan secara liar. Manusia yang bisa mengontrol nafsu rendahnya dan mampu mengendalikan kepentingan egonya demi kebaikan dan ketertiban bersama menjadi ciri manusia dan sekaligus masyarakat yang beradab.  Merebaknya fenomena kekerasan dan kekacauan sosial akhir-akhir ini adalah sinyal yang memberitahukan ada yang sakit pada bangsa ini. Tindak kekerasan dengan modus yang semakin primitif dan hewani adalah tanda-tanda bahwa nurani dan akal budi manusia semakin tumpul.

Yang lebih memprihatinkan lagi adanya gejala semakin banyaknya pelaku tindak kejahatan berusia muda bahkan anak-anak (Kompas.com) . Kasus penusukan oleh Amn, anak usia 12 tahun, menyentak pikiran saya : bagaimana mungkin di otak anak yang seharusnya masih didominasi dengan kepolosan dan kegembiraan  masa bermain sudah bisa merancang suatu tindakan balas dendam yang diikuti dengan kemampuan untuk melakukan hal  keji  semacam pembunuhan.

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya coba mencari fakta-fakta di seputar Amn. Amn dikenal di lingkungan sekolahnya sebagai anak nakal. Beberapa kenakalan yang diketahui teman-temannya antara lain mencuri, memalak, dan membentuk geng di sekolah, teman sekolahnya mengatakan “Dia biasa mencuri di sekolah, malak, berantem” (megapolitan.kompas.com )

Apabila ditelusuri ternyata Amn ini kerap mendapatkan kekerasan fisik dari orang tuanya. Orang tua Amn sudah bercerai, bapaknya sudah meninggal dan ibunya seorang buruh yang tinggal di Medan dan dia di Jakarta ikut kakaknya yang seorang satpam (republika.co.id -pelaku-penusukan-anak-korban-kdrt)

Melihat fakta seputar Amn, maka untuk memahami faktor apa yang mendorong dia tega membunuh temannya  lebih cocok kalau didekati dari sisi sosiologis.  Perspektif sosiologis melihat factor sosial  yang mempengaruhi perilaku seorang anak :  hubungan timbal balik  antara individu, kelompok sosial ekonomi, proses sosial, dan struktur sosial.  Ada banyak faktor sosial yang menyebabkan tindak kriminal di kalangan anak atau remaja (Martin dalam Juvenile_Delinquency –  sagepub.com.). Faktor yang paling dasar adalah lingkungan keluarga. Keluarga adalah lembaga yang pertama kali mengenalkan norma, nilai dan model perilaku ke anak. Apa yang ditanamkan orang tua ke anak adalah cetak biru –  “blueprint” bagi kepribadian, keyakinan dan perilaku seorang anak. Keluarga memegang andil terbesar bagi pembentukan karakter anak, disitu lah anak mendapatkan didikan tentang bagaimana berinteraksi dengan orang lain dan masyarakat.    Rumahtangga yang tidak sehat – orang tua yang sering cekcok dan  sering terjadi tindak kekerasan  –  akan berdampak pada kondisi emosional dan psikologis anak yang itu akan terekspresikan dalam kehidupan sosialnya, misalnya anak mudah stress, destruktif, pemarah, suka memancing keributan, berkelahi, mencuri, dsb. Intinya, rumah tangga yang sehat adalah kunci pembentukan anak yang sehat fisik dan psikis.

Faktor lainnya adalah kondisi sosial ekonomi.  Anak yang tinggal di lingkungan keluarga miskin di perkotaan umumnya rawan terpapar perilaku menyimpang yang umum ditemui di permukiman kumuh (slum) seperti mabuk-mabukan, judi, perkelahian dan tawuran, pelacuran dll.  Penelitian tentang kelas bawah di perkotaan telah menemukan bahwa sejumlah besar kaum miskin kota terjebak dalam siklus kemiskinan kronis yang turun temurun : prestasi pendidikan rendah, pernikahan dini , pengangguran, dan ketergantungan kesejahteraan. Teori kelas bawah berpendapat bahwa perilaku antisosial telah menjadi semacam norma di kalangan kaum miskin di kota besar, sehingga kenakalan dan kriminalitas merupakan fakta kehidupan yang endemik ( Martin – sagepub.com)

Ditinjau dari sisi keluarga, Amn adalah anak produk keluarga yang tidak sehat. Orang tuanya miskin, sudah bercerai sejak dia kecil, terus dia dititipkan pada kakaknya yang mungkin tidak bisa menggantikan peran orang tua sebagai sumber kasih sayang dan perlindungan seorang anak. Anak semacam Amn masih butuh bimbingan untuk menemukan jati dirinya. Namun karena keluarganya tidak lagi utuh dan dia tidak menemukan orang yang bisa melimpahinya dengan kasih sayang, maka ia seperti berkembang liar sendirian. Keluarga yang tidak utuh atau orang tua yang bercerai sebenarnya tidak mesti membuat anak menjadi nakal dan liar, sepanjang kedua orang tuanya tetap memberikan bimbingan, kasih sayang dan kebutuhan lain yang dibutuhkan bagi tumbuh kembang anak yang sehat fisik dan psikis. Tapi ini tidak didapatkan oleh Amn karena kebetulan juga dia berasal dari keluarga dengan kelas sosial ekonomi rendah.

Saya yakin, anak dengan latar belakang sosial ekonomi seperti Amn ini mudah ditemukan di kantong-kantong kemiskinan di kota-kota besar di Indonesia.  Sebagian besar mereka adalah penduduk pedesaan yang kehilangan lahan pekerjaan di desa dan lari ke kota dengan modal nekat : berani  melakukan apa pun  demi bertahan hidup. Jangankan untuk merawat dan memberikan pendidikan yang baik pada anak, untuk mendapatkan uang yang  cukup untuk makan sehari-hari saja susah. Bisa dibayangkan bagaimana kalau keluarga semacam ini mempunyai anak lebih dari 3 orang.  Jadi jangan heran kalau kita melihat banyak anak yang terpaksa bertahan hidup sendiri, melakukan apa saja untuk menghidupi dirinya : mengamen, mengasong, mengemis . menjadi pelacur atau bahkan mengerjakan pekerjaan yang membahayakan keselamatan dirinya.

Memang benar kalau dikatakan kondisi keluarga dan sosial ekonomi yang buruk menjadi lahan tumbuhnya penyakit sosial. Dengan kata lain, semakin buruk kualitas keluarga dan kondisi sosial ekonomi suatu masyarakat berarti akan semakin besar kemungkinan  terjadinya tindak kekerasan, kejahatan atau kriminalitas.  Mengapa  demikian? Sejauh mana kontribusi lembaga publik atau Negara  terhadap semakin buruknya problem sosial, politik, dan ekonomi di suatu negara?

(Jawaban pertanyaan ini bisa dibaca di Bagian 2)