“Konsumtivisme, Nafsu Memiliki Telepon Pintar” demikian judul berita Harian Kompas , Sabtu – 26 Nopember 2011. Berita ini mengulas tentang banyaknya orang yang terluka dan pingsan gara-gara antri membeli handphone Blackberry (BB) seharga Rp 4,6 juta yang didiskon 50% menjadi Rp 2,3 juta. Ahli filsafat ekonomi Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, B.Herry Priyono, mengatakan fenomena ini timbul karena masyarakat tak mampu mengambil jarak terhadap konsumsi. Masyarakat tidak mampu membedakan apa yang sungguh dibutuhkan dan yang diinginkan. ”Apakah saya sungguh membutuhkan atau menginginkan, campur aduk. Semua didikte iklan”. Gejala ini oleh B.Herry Priyono disebut  adiksi konsumsi. Keinginan mengkonsumsi sebuah produk sudah pada taraf seperti orang yang kecanduan narkoba. Karena konsumsi sudah memasuki tataran adiksi, orang tidak sanggup lagi menanyakan baik atau buruk. “Pokoknya secara kompulsif menginginkan itu. Seperti ketagihan heroin,” katanya .

Singkatnya, adiksi konsumsi itu  keinginan untuk memiliki suatu barang yang sudah  sampai pada taraf yang harus disalurkan.   Adiksi konsumsi ibarat nafsu syahwat yang membutakan rasionalitas manusia. Manusia jatuh pada obsesi untuk memiliki dan harus dilampiaskan. Kalau otak (rasionalitas) dikalahkan oleh nafsu, maka perilaku manusia mudah tergelincir menjadi tak ubahnya binatang yang perilakunya dikontrol oleh nafsunya. Buktinya jelas terlihat saat orang berdesak-desakan ingin merebut posisi terdepan dan lupa akan manusia lain, bahkan saat mereka menginjak atau melukai manusia lainnya yang terjatuh dan terpepet. Ini yang terjadi saat manusia merebutkan sesuatu yang sangat mereka inginkan  dan barang itu juga diperebutkan oleh banyak manusia lainnya. Barang yang diperebutkan tidak mesti berharga, bisa itu sekedar sedekah beras, gula atau mie instant atau bahkan sekedar uang Rp20.000, atau tiket nonton sepak bola, dan yang baru saja  terjadi –  ngantri mendapatkan BB diskonan.

Saya tidak memiliki BB, sehingga tidak tahu rasionalitas mengapa orang rela antri berjam-jam dan berdesakan untuk mendapatkannya. Bahkan ada yang datang jauh-jauh dari luar kota dan mengantri semalaman demi mendapatkan diskon separo harga atau senilai Rp2,3 juta. Rasional nggak sih nilai nominal segitu dengan tenaga, waktu, dan kelelahan fisik dan psikis yang harus dibayarkan? Mereka yang membeli BB dengan harga jutaan tentu bukanlah orang miskin yang rela mengantri dan berdesakan untuk mendapatkan fitrah Rp 20.000. Kesimpulannya, dalam mendapatkan sesuatu benda yang diinginkan  dan diperebutkan oleh orang banyak yang terkonsentrasi di satu tempat ,perilaku  manusia akan dikontrol oleh hukum : Homo homini lupus. Manusia lain adalah pesaing yang harus disingkirkan.

Tapi tidakkah tingkat pendidikan itu akan menentukan rasionalitas perilaku seseorang?

Dalam perilaku konsumsi ternyata tidak selalu intelektualitas mampu mengontrol hasrat konsumsi. Ada penelitian yang menyatakan bahwa lebih 90 % perilaku consumer tidak dilakukan secara sadar (rasional). konsumer tidak bisa menjelaskan apa motivasi mereka dalam mengkonsumsi suatu produk ( http://www.cult-branding.com/brand-modeling).

Jika menggunakan teori Hirarki Kebutuhan dari Maslow, maka perilaku konsumsi bisa dijelaskan demikian : semakin tinggi status sosial ekonomi seseorang ,  perilaku konsumsinya tidak akan dimotivasi oleh tingkat kebutuhan yang rendah (kebutuhan primer atau fisik) tapi untuk memenuhi kebutuhan tingkat tinggi seperti  kebutuhan akan interaksi sosial, penghargaan (esteem needs) dan aktualisasi diri (self-actualization). Pada kelompok mapan secara ekonomi, kebutuhan untuk menjadi bagian suatu komunitas bergengsi dan menjalin interaksi sosial dengan sesama anggota komunitas menjadi suatu kebutuhan penting. Di era komunikasi digital ini masyarakat mengalami adiksi komunikasi (menjalin komunikasi menjadi kebutuhan yang harus disalurkan sehingga memiliki alat komunikasi seperti HP sudah menjadi kebutuhan primer).   Mereka menggunakan alat komunikasi untuk  menjalin pertemanan atau interaksi sosial dengan anggota komunitasnya. Bagi kelompok kaya dan mapan, keinginan untuk menjadi eksklusif, berbeda dan menonjol dibanding kelompok atau klas masyarakat lainnya menjadi suatu hasrat yang harus dipenuhi (sumber : an introduction to cult branding) .

Menggunakan teori diatas, maka kegilaan untuk memilik BB tidak bisa dipahami sebagai perilaku memenuhi kebutuhan fungsional sebuah HP (sekedar untuk bisa berkomunikasi) tapi yang penting lagi adalah untuk kebutuhan status , gengsi dan eksistensi diri.

Jadi , mengapa BB begitu laris manis di Indonesia?

Jawabnya sudah mudah ditebak. Orang Indonesia itu orang yang sangat “status dan gengsi minded”. Kalau bisa semua status yang dimilikinya maunya bisa ditempelkan atau dibuat simbolnya. Kenapa di Indonesia banyak orang yang pengin punya BB,  salah satu alasannya karena – (katanya) kalau facebook-an itu simbol BB akan muncul sehingga orang tahu kalau si pengirim pesan itu pakai BB. BB menjadi simbol status atau gengsi.    Selain karena gengsi, beli BB juga karena tuntutan komunitas pertemanan.  Masyarakat Indonesia itu merupakan tipe masyarakat yang senang bergaul dan kumpul-kumpul. Mereka senang membuat komunitas atau jaringan pertemanan, karena itu FB dan twitter laris manis di Indonesia. BB menjadikan kegiatan ngobrol dan kumpul-kumpul menjadi tambah asyik. Seseorang yang menjadi bagian suatu komunitas pertemanan, kalau FB-an atau komunikasi diantara anggota dilakukan lewat BB maka mau tidak mau dia harus punya BB agar bisa menyatu dengan aktivitas anggota komunitas lainnya.

Saya tidak ingin usil dengan menghakimi mereka yang mempunyai BB. Karena kalau saya bersikap demikian dan saya tidak punya BB, maka saya kesannya “iri tanda tak mampu”. Tapi kalau pun saya memaksakan diri beli BB, saya malah jadi bingung mau saya pakai apa? Saya tidak punya FB, twitter  atau jaringan sosial lainnya. Terus HP saya yang sekarang ini hanya  digunakan untuk telepon dan sms saja, menu yang lainnya blas tidak pernah dipakai. Jadi ya harap dimaklumi kalau saya heran dan tidak habis pikir mengapa orang rela datang jauh-jauh dari luar kota untuk antri berjam-jam dan berdesakan demi mendapatkan BB.

blog chron comKonsumsi suatu benda memang sebaiknya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan fungsional. Karena untuk saat ini, saya tidak memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi lewat BB, maka saya tidak berkeinginan membeli BB. Namun, bagi mereka yang memang butuh BB, untuk sarana komunikasi – misalnya karena sering bepergian di daerah terpencil yang jaringan internetnya susah, maka BB jelas penting untuk dimiliki atau juga bagi mereka yang memiliki BB sekedar untuk bisa menjalin interaksi sosial. Memiliki BB, it’s okay. Dengan catatan, jangan menjadikan BB sebagai benda yang harus dimiliki dengan cara apa pun. Kalau demikian , itu sudah tanda-tanda mengalami adiksi konsumsi.  Terlebih lagi, kalau nanti sudah memilikinya, terus aktivitas sehari-hari tersita untuk utak-atik BB. Gejala ini sudah saya lihat di orang-orang terdekat di sekeliling saya. Kalau sudah memegang BB, mereka seperti orang autis yang asyik dengan dunianya sendiri, tidak ingat sekelilingnya dimana pun mereka berada. Jika sudah demikian, hati-hati lho. Jangan sampai BB itu menjadi cult brand – pengkultusan benda bermerek. Kalau suatu benda itu menjadi kultus artinya dia menjadi pemujaan. Apa sebutan untuk benda yang dipuja? Berhala dong ! Iya, Benar. Di jaman modern ini, yang namanya berhala itu bukan lagi sekedar patung yang disembah lho. Kalau saingan monotheisme  itu hanya sekedar patung,  itu mudah dihancurkan. Tapi musuh monotheisme sekarang ini tidak sekedar benda mati, tapi sesuatu yang justru tumbuh di dalam diri manusia sendiri yakni adiksi konsumsi dan materialisme. Pemujaan pada materi dan hasrat mengkonsumsi barang bermerek bila tidak disertai kemampuan untuk mendapatkannya bisa membuat manusia lupa pada larangannya Tuhannya  – dengan melakukan korupsi atau menjual diri, atau bahkan melakukan tindakan kriminal.

Jadi, sekali lagi hati-hati karena ternyata adiksi konsumsi tidak kalah bahayanya ketimbang adiksi narkoba. Dua-duanya sama-sama merusak manusia dan kehidupan.

Bicara soal nafsu konsumsi paling pas sambil mendengarkan lagu  PRICE TAG dari Jessie J dan jika ingin ikut bernyanyi sambil goyang-goyang ini  LIRIKNYA