Lagi-lagi plagiarism di kalangan akademisi, kali ini yang terkena musibah UPI Bandung . Yah sedih dan malu jadi satu, karena pelakunya bukan dosen sembarang dosen, tapi calon guru besar di lembaga pencetak para guru – Universitas Pendidikan Bandung.  Sebagai sesama pengajar saya tidak ingin ikut-ikutan menambahi beban mental para pelaku. Saya hanya ingin bercermin dan berdoa agar bisa terhindar dari perbuatan yang sama. Memang sungguh tidak ringan beban yang ditanggung dosen untuk bisa menjalankan tugas sebagai pendidik yang professional dan kompeten.

Akhir-akhir ini kita para pendidik seperti mendapat angin sorga dengan adanya tunjangan sertifikasi bagi guru dan dosen ,serta secara khusus tunjangan professor yang jumlahnya sungguh menggiurkan.  Kita terbuai dengan angin sorga itu, sehingga lupa bahwa dibalik kenikmatan itu ada tanggungjawab besar yang harus dijalankan. Itu semua adalah bentuk tunjangan kompetensi atau kinerja, bukan uang cuma-cuma yang melekat karena predikat kita sebagai dosen. Yang namanya tunjangan kinerja adalah besaran yang diberikan sebagai imbalan atas capaian kerja yang berhasil dituntaskan. Ada kerja keras yang harus kita bayar untuk semua itu.

Plagiarisme bukan gejala yang baru di kalangan akademisi. Namun, iming-iming tunjangan professor yang sungguh menggoda bisa menggoyahkan iman banyak dosen untuk melakukan cara apa saja demi mendapatkan jabatan fungsional tertinggi itu, termasuk dengan menempuh jalan plagiarisme. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua dosen ingin menjadi professor semata-mata karena ingin mendapatkan tunjangan yang tinggi. Tapi setidak-tidaknya, jumlah tunjangan professor yang sepuluh juta lebih, telah mendorong para dosen yang semula tidak begitu antusias meraih jabatan fungsional dosen tertinggi menjadi termotivasi untuk mendapatkan gelar professor, sekali pun sesungguhnya belum siap secara intelektual maupun  administratif untuk menyandang gelar tersebut.

Dulu, kita dengar istilah professor GBHN atau Guru Besar Hanya Nama, suatu istilah untuk menyebut mereka yang bergelar professor namun minim karya ilmiah. Namun, adanya nilai nominal tunjangan professor yang besar, jelas tidak akan lagi ada professor GBHN. Untuk menduduki jenjang karier tertinggi itu saat ini dibutuhkan persyaratan yang tidak mudah. Kum minimal harus 850 , itupun tidak sekedar asal jumlahnya terpenuhi tapi ada komponen-komponen penting yang wajib ada seperti karya ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional, penelitian ,  buku-buku yang telah diterbitkan, kegiatan akademis yang dilakukan seperti pembicara di seminar internasional, dan sebagainya. Kalau pun sudah menjadi professor, agar tunjangan professor itu tetap diberikan mereka harus memenuhi tuntutan minimal dalam 3 tahun harus menulis buku dan karya ilmiah di jurnal internasional serta sebagai pembicara di seminar internasional. Persyaratan ini sebenarnya wajar untuk diwujudkan dalam jangka waktu 3 tahun, namun jelas bukan hal yang mudah bagi yang tidak terbiasa secara rutin menghasilkan karya ilmiah, apalagi harus publikasi di jurnal internasional. Apabila tuntutan kinerja profesi ini tidak terpenuhi,  plagiarism bisa menggoda dosen untuk dijadikan  alternatif terakhir yang dipilih.

Plagiarism memang pelanggaran akademik yang berat, apalagi  calon guru besar UPI itu diindikasikan melakukan plagiarism terhadap thesis mahasiswa S2 Unpad hampir 100 % (oooh  seram!!).  Kasus ini seperti mengulang kembali kasus seorang guru besar di Universitas Riau yang terbukti menjiplak mentah-mentah atau hampir 100 % sebuah buku terbitan Gramedia untuk dicetak kembali dan dijual untuk umum  (JPNN.COM).   Yang lebih memprihatinkan, indikasi pelanggaran akademik ini ternyata tidak hanya ditemukan di UPI saja, tapi ada 20 perguruan tinggi negeri yang diduga melakukan pelanggaran akademik

Kasus-kasus plagiarism di atas ibarat kaca besar bagi dunia perguruan tinggi untuk bercermin. Kasus seperti yang saat ini tengah menimpa UPI bisa terjadi pada perguruan tinggi mana pun, termasuk UNS. Kita tidak boleh munafik. Kita harus berani akui bahwa bibit-bibit plagiarism itu ada. Bahkan, mungkin juga itu ada pada diri saya sendiri. Bisa karena factor ketidaktahuan tentang batas-batas plagiarism , karena keteledoran, bisa juga karena factor kesengajaan atau memang sudah  diniatkan untuk melakukan plagiarism. Namun, kalau sampai menjiplak 100 persen persis apalagi sampai menerbitkan buku hasil memplagiat buku yang telah diterbitkan penerbitan ternama, saya kehabisan kata-kata dan hanya bisa mengelus dada….tidak habis pikir.  Sungguh butuh kenekatan luar biasa untuk berani melakukan model plagiarism semacam ini. Apalagi tehnologi pendeteksi plagiarism saat ini sudah sedemikian canggih, seperti alat  INI, misalnya.

Kalau plagiarism model jiplak 100 persen  ini tetap dilakukan dosen di masa datang, ya saya jadi maklum kenapa pak Dirjen Dikti mengeluarkan surat edaran yang mengharuskan karya ilmiah dosen harus bisa dideteksi secara online. Karena dengan bantuan alat pendeteksi plagiarism yang canggih, ruang gerak dosen untuk melakukan plagiasi menjadi semakin sempit. Jadi, bagi para dosen tidak ada pilihan lain bagi kita selain berusaha keras untuk mengembangkan diri secara terus menerus  agar mampu menghasilkan karya ilmiah yang mampu kita pertanggungjawabkan dari sisi kaidah akademik.

Tidak mudah memang, tapi apa yang tidak mungkin bagi orang yang mau bekerja, berusaha dan tak lupa berdoa. Sebagai penutup, mari kita baca  renungan terkait dengan tantangan dosen saat ini, sebagaimana ditulis dalam ulasan berikut : 20 perguruan tinggi negeri diduga lakukan pelanggaran akademik?

Untuk menambah wawasan tentang apa itu  plagiarism  bisa diklik link berikut ini :

Guide to Plagiarism and Cyber-Plagiarism

All about plagiarism