Setelah menulis tentang soft skills dan menyinggung sedikit tentang pentingnya soft skills bagi dosen. Kali ini saya ingin mengulas lebih jauh tentang apa dan bagaimana dosen yang baik itu. Saya menyadari betul tidak mudah untuk bisa menjalankan tugas dan tanggungjawab sebagai pengajar di perguruan tinggi. Terlebih lagi setelah adanya kebijakan sertifikasi dosen. Meskipun kebijakan itu memberikan tambahan penghasilan yang cukup signifikan bagi dosen, namun konsekuensi dari penghargaan itu tidaklah enteng. Saat ini penilaian kinerja dosen semakin diorientasikan pada hasil   kerja dan karya riil yang telah dilaksanakan. Seorang  dosen yang baik tidak hanya menjalankan tugas rutin mengajar dan mengevaluasi hasil belajar mahasiswa, namun juga harus  mengembangkan ilmu yang dikuasai dengan melakukan penelitian, menulis artikel atau karya ilmiah lainnya, dan menyumbangkan ilmunya untuk memperbaiki kondisi masyarakat melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Ketiga tugas utama dosen –  mengajar, meneliti/menulis karya ilmiah, dan pengabdian masyarakat -wajib dilakukan di tiap semester, karena penilaian kinerja dosen per semester mensyaratkan adanya ketiga unsur tersebut.

Tulisan ini akan mencoba memberikan gambaran tentang dosen yang baik dilihat  dari  salah satu tugas utama dosen yakni sebagai pengajar dan pendidik mahasiswa.

telefolios rcoe appstate eduMendeskripsikan apa dan bagaimana dosen yang baik tidaklah mudah. Seperti halnya mengukur kualitas suatu pelayanan, hal yang jadi masalah adalah kriteria baik atau berkualitas itu dilihat dari kacamata siapa? Si pemberi layanan atau yang menerima layanan? Pengajar atau yang diajar? Yang bikin rumit adalah antara kedua pihak mempunyai kepentingan yang tidak komplemen satu sama lain. Pengajar atau dosen seringkali merasa sudah bekerja maksimal namun mahasiswa tidak memberikan hasil belajar seperti yang diinginkan, belum lagi masalah sikap dan perilaku mahasiswa yang terkadang tidak menunjukkan penghargaan pada dosen. Pihak yang diajar atau mahasiswa juga mempunyai harapan sendiri tentang bagaimana seharusnya dosen itu dan menurut persepsi mereka dosen belum bisa memenuhi harapan mereka akan kriteria dosen yang baik. Parahnya lagi, relasi dosen dan mahasiswa atau guru dan murid dalam sistem pendidikan di Indonesia menunjukkan relasi yang timpang. Guru atau dosen seringkali berada pada posisi dominan atau superior dan murid atau mahasiswa sebagai pihak yang harus manut pada apapun “rule of the game” yang ditentukan dosennya. Akibatnya terkait dengan proses belajar dan mengajar, mahasiswa tidak berani memprotes apapun yang menjadi keputusan dosen. Kalau berani memprotes harus siap di-black list atau     di”persona non grata”kan dosennya. Model dosen jadul atau dosen killer semacam ini saya kira masih banyak ditemui di abad digital ini. Di sisi lain, mahasiswa sendiri terkadang cenderung mencari yang gampang dan mudah dalam menjalankan tugas perkuliahan sehingga saling copy paste tugas sebagai praktek budaya menerabas dan pengutamaan cara instant menjadi hal yang lazim ditemukan di kalangan mahasiswa. Kesannya mahasiswa menyepelekan dosen dan tidak ada niat untuk belajar. Namun saya percaya tipe mahasiswa semacam ini tidaklah banyak. Karena itu, kuncinya sepanjang dosen mampu memotivasi mahasiswa dengan menjalin hubungan yang baik dan menunjukkan integritas yang tinggi , maka mahasiswa akan menghargai dan menghormati jerih payah  dosennya.

Berpijak pada keyakinan ini, saya mencoba introspeksi diri apakah selama ini saya telah mampu menjadi dosen yang baik?  Dengan yakin saya menjawab: belum ! Kelemahan atau kekurangan saya sebagai dosen adalah :  dalam memberi kuliah saya perlu terus mempersiapkan materi dengan baik; masih perlu terus menerus meng-update dan menguasai materi perkuliahan; masih perlu belajar mengembangkan ketrampilan mempresentasikan  materi kuliah; terkadang masih memposisikan mahasiswa sebagai pihak  yang harus manut dan tunduk pada aturan dosen, misalnya tentang jam masuk ke ruang kuliah , saya terkadang molor beberapa menit namun saya tidak suka kalau itu dilakukan mahasiswa; dan masih banyak lagi kekurangan lain yang mesti saya benahi.

Dengan niat baik untuk membenahi diri dan berusaha untuk menjadi semakin baik, saya browsing di internet mencari resep atau kiat-kiat menjadi dosen yang baik. Ternyata ada banyak sekali tulisan yang mengangkat tema How to be a good lecturer. Hasil saya menjelajahi internet itu akhirnya saya olah menjadi tulisan ini.

Dosen yang Baik

Untuk menjadi dosen yang baik pertama sekali kita perlu mengenali ciri-ciri atau profil dosen yang baik itu seperti apa.

Menurut Paulo Domizio dalam tulisannya “Giving A Good Lecture mendeskripsikan ciri guru atau dosen yang baik adalah mudah diakses atau dihubungi (accessible), entusias, penuh kasih sayang, humoris, perhatian, dan tidak menghakimi. Domizio menyatakan mengajar itu seperti main drama dimana guru menjadi pemeran utama. Kemampuan mengajar dengan baik –sama halnya dengan kemampuan acting- harus dipelajari dan terus menerus dikembangkan melalui praktek. Dosen yang baik merencanakan betul-betul perkuliahannya sehingga dapat memberikan kuliah dengan baik , selalu tepat waktu dan dengan terbuka mau menerima feedback dari mahasiswanya dan meresponnya dengan mengembangkan keahliannya.

Berikut ini ciri-ciri guru atau dosen yang baik menurut Domizio  :

Menghargai mahasiswanya dan menyiapkan perkuliahannya dengan sungguh-sungguh.

Memiliki selera humor (sense of humour) dan dapat dengan efektif  menyelipkan humor dalam setiap perkuliahannya.

Mampu menciptakan suasana atau lingkungan belajar yang mendukung (supportive), menumbuhkan kepercayaan (trust) dan tidak menggunakan pendekatan ancaman yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman atau ketakutan di hati mahasiswa.

Berorientasi pada pembelajaran (learner-orientated) : Merumuskan tujuan pembelajaran dan mengevaluasi hasilnya sehingga mahasiswa tahu dengan jelas apa yang harus dipelajari ;  Menggunakan metode dan media pengajaran yang bervariasi sehingga perkuliahan tidak monoton dan membosankan ; Melakukan refleksi atau  evaluasi perkuliahan dengan meminta feedback dari mahasiswa dan bersedia merubah atau memperbaiki cara mengajarnya sesuai dengan masukan dari mahasiswanya.

Artikel Qualities of Good Teacher mengemukakan sifat-sifat guru atau dosen yang baik meliputi :

Empathy : Mampu menumbuhkan ikatan (batin) dengan mahasiswanya  sehingga bisa memahami dan menyelami perasaan dan emosi mereka. Mampu berkomunikasi sesuai dengan level mahasiswa. Berempati  saat mereka gagal atau down dan ikut merasakan kebahagiaan saat mereka sukses.

Positive Mental Attitude Mampu  berpikiran  positif .  Selalu menampilkan wajah yang ramah dan masih bisa tersenyum sekalipun di situasi sulit. Senantiasa melihat segala sesuatu dari sisi yang menyenangkan. Mencari hal-hal yang positif dari setiap situasi yang negative . bisa berpikir filosofis.

Open to Change : Bisa menyadari bahwa hal yang konstan dalam hidup adalah perubahan.  Tahu mana yang merupakan tradisi yang harus dipertahankan dan mana yang memerlukan cara baru, ide baru, system baru, dan pendekatan baru.  Tidak berpikiran kaku , selalu terbuka dan mau mendengarkan ide-ide orang lain.

Role Model : Guru atau dosen  itu jendela tempat anak-anak muda melihat gambaran masa depannya, karena itu jadilah contoh atau teladan yang baik.

Creative : Dosen bisa memotivasi anak didiknya melalui metode pengajaran yang kreatif dan inspirasional. Gunakan pendekatan yang unik sehingga perkuliahan menjadi menyenangkan dan mahasiswa dapat menemukan ide-ide baru.

Sense of Humour : Humor bisa menghilangkan hambatan dan mencairkan suasana yang tegang dan serius. Kemampuan menghidupkan perkuliahan dengan memberi contoh-contoh kasus yang bisa mengundang tawa  akan memudahkan mahasiswa mengingat dan memahami materi. Dosen yang humoris biasanya akan popular di kalangan mahasiswanya.

Presentation Skills : Mahasiswa  ada yang bertipe visual, auditory dan  kinaesthetic , karena itu sebaiknya dosen menyiapkan gaya presentasi yang menampung ketiga tipe pembelajar tersebut. Bahasa tubuh dosen merupakan komunikator utama dan gunakan dengan positif setiap saat. Seperti orator, dosen harus semangat saat berbicara. Namun pada saat yang sama dosen membuka kesempatan untuk diskusi dan menerima masukan dari mahasiswa.

Calmness : Terkadang dosen harus menghadapi mahasiswa yang berperilaku negatif . Perlu disadari bahwa mahasiswa yang demikian itu mempunyai  akar penyebabnya , mungkin pengalaman hidup yang buruk yang dialaminya di masa lalu. Dosen harus mampu bertindak tenang dan mampu mengontrol emosi saat menghadapi mahasiswa  yang bersikap dan berperilaku negatif. Dosen yang baik adalah dosen yang mampu merubah atau membantu mahasiswa-mahasiswa yang bermasalah.

Respectful : Kita tahu bahwa  setiap orang itu sama pentingnya, sama berharganya. Setiap orang mempunyai tempat di dunia ini. Semua orang berhak diperlakukan sama. Karena itu dosen haruslah bisa menghargai rekan kerja maupun  mahasiswanya.  Apabila kita menghargai orang lain, maka mereka juga akan menghargai kita.

Inspirational : Guru atau dosen dapat merubah kehidupan anak muda dengan cara membantu mereka menyadari potensinya, membantu agar bisa bertumbuh, membantu menemukan bakat, ketrampilan dan kemampuan mereka.

Passion : Bersemangatlah dalam segala hal yang kita kerjakan. Mendidik  anak muda menjadi tugas panggilan utama seorang guru atau dosen. Misi yang diemban guru adalah membuat sesuatu yang berbeda ( membuat anak muda yang semula bukan siapa-siapa menjadi manusia yang berguna bagi masyarakat).

Willing to Learn : Jangan pernah berhenti belajar. Jangan segan atau malu belajar pada dosen lainnya atau bahkan dari mahasiswa.

Kalau ada dosen yang baik tentunya ada dosen yang tidak baik. Apa ciri dosen yang tidak baik ? Paulo Domizio mendeskripsikan dosen yang tidak baik adalah dosen yang mempunyai kecakapan interpersonal dan komunikasi yang rendah, tidak peduli atau tidak mau tahu kepentingan mahasiswa, suka menggunakan pendekatan intimidasi atau menakut-nakuti mahasiswa,  serta tidak mudah didekati  sehingga tidak bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa.

Tulisan ini saya putus sampai disini dulu  agar  tidak menjadi panjang dan membuat mata jadi lelah membacanya.  Tulisan berikutnya tentang  bagaimana langkah-langkah untuk menjadi dosen yang baik akan saya tulis pada bagian kedua.

Gambar : telefolios.roe.appstate.edu.gif