thepunch com auKriteria dosen yang baik bagi mahasiswa  tentu saja diukur dari kemampuannya melaksanakan tugas utama yakni mengajar. Karena itu, untuk menjadi dosen yang baik tidak ada cara lain selain dengan meningkatkan kecakapan memberikan perkuliahan.

Paulo Domizio dalam Giving A Good Lecture memaparkan langkah-langkah yang perlu dilakukan agar dapat menyiapkan perkuliahan yang baik. Langkah-langkah tersebut dibagi menjadi tiga yakni : 1) merencanakan perkuliahan, 2) menyusun struktur perkuliahan (structuring the lecture); 3) menyiapkan perkuliahan, dan 4) menyampaikan perkuliahan

1. Merencanakan Perkuliahan

Langkah penting yang perlu dilakukan adalah mengenali latar belakang mahasiswa.  Dengan memahami kapasitas intelektual mahasiswa, dosen bisa menyampaikan materi perkuliahan yang sesuai dengan daya tangkap dan daya serap mahasiswa, sehingga materi kuliah tidak terlalu sulit dan juga tidak terlalu mudah bagi mahasiswa. Menurut Domizio, apabila kita belum tahu pasti bagaimana karakteristik audiens sebaiknya kita beranggapan mereka belum tahu materi yang akan kita sampaikan sehingga kita bisa memulai dari hal-hal yang mendasar, ketimbang memberikan materi yang terlalu berat untuk dipahami (Kelihatannya sederhana, tapi hal ini yang nampaknya belum saya sadari. Selama ini seringkali saya menganggap mahasiswa mempunyai kecerdasan yang sama dalam menangkap materi kuliah yang saya berikan. Ternyata latar belakang, kebutuhan, dan pengetahuan yang dimiliki mahasiswa sangat menentukan keberhasilan dalam menyerap materi kuliah).

2. Menyusun struktur perkuliahan

Struktur perkuliahan itu sama dengan alur cerita novel atau film , dimulai dari pengenalan atau pengantar (prolog) , pertengahan  atau inti dan penutup atau kesimpulan (epilog). Struktur semacam ini memudahkan mahasiswa untuk mencerna dan juga mempermudah dalam membuat powerpoint. Inti struktur perkuliahan adalah : Tell Them What You Are Going to Say. Say It. And Then Tell Them What You Said (Katakan materi apa yang akan kita sampaikan. Sampaikanlah. Kemudian katakan apa saja yang telah kita sampaikan -provost.rpi.edu/).

Bagian pendahuluan kuliah berisi penjelasan tujuan pembelajaran dan pokok-pokok materi yang akan dibahas  sehingga mahasiswa tahu apa yang akan dibahas dan bisa mengikuti penjelasan dosen dari waktu ke waktu.

Akhir kuliah berisi rangkuman poin-poin utama yang telah disampaikan dan penjelasan referensi  yang digunakan sehingga mahasiswa bisa mempelajari sendiri dari sumber aslinya. Untuk mengetahui sejauhmana pemahaman mahasiswa bisa diajukan beberapa pertanyaan atau dengan memberi tugas terkait materi yang telah disampaikan.

3. Menyiapkan perkuliahan

Kunci perkuliahan yang baik terletak pada persiapan materi yang akan disampaikan. Jika dosen benar-benar menyiapkan materi dengan sungguh-sungguh, maka perkuliahan menjadi lebih mudah. Pertanyaannya: menyiapkan kuliah yang baik itu gimana caranya ? langkah-langkah apa yang harus dilakukan?

Domizio menyebutkan hal-hal yang perlu dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan dalam mempersiapkan materi kuliah.

Yang perlu dilakukan :

Dalam menyiapkan materi kuliah (dengan menggunakan powerpoint) resep yang berlaku adalah lebih ringkas lebih baik. Idealnya 1,5 – 2 menit per slide, jangan sampai 70 slide disampaikan selama 20 menit. Ingatlah kira-kira 20 % waktu audiens itu digunakan untuk memikirkan hal-hal lain, maka ingatkan berulang-ulang konsep atau ide-ide pokok materi perkuliahan, terutama di awal atau di akhir perkuliahan saat perhatian mahasiswa sudah berkurang.

Sedapat mungkin hindari penggunaan terminologi atau jargon-jargon. Jika menggunakan singkatan atau konsep atau istilah tehnis, jelaskan dulu apa maknanya. Gunakan bahasa yang umum, singkat dan sederhana di tampilan slide (Saran ini susah diterapkan untuk mata kuliah saya Teori Administrasi Negara. Wong Teori  AN itu isinya banyak paradigma, konsep dan terminologi kok disuruh menghindari. Jadi kiat ini menurut saya lebih cocok untuk mata kuliah yang non-teori)

Buatlah materi kuliah lebih menarik dengan menggunakan analogi atau contoh dan, jika mungkin,  menghubungkannya dengan pengalaman pribadi. Gunakan anekdot dan humor setiap kali ada kesempatan (Saran ini bisa saya terima, apalagi kalau ngajar teori tanpa ada analogi atau contoh kasus ya jelas akan kering, mosok mahasiswa cuma disuruh ngapalkan konsep dan teori. Kalau soal menyelipkan anekdot atau humor, saya akui itu kelemahan saya. Kemampuan melucu itu menurut saya ada unsur bakatnya, biasanya ibu-ibu jarang yang bakat melawak. Jadi bagi saya ini unsur penting yang paling sulit untuk dipraktekkan).

Gunakan gambar-gambar yang relevan, karena sebuah gambar itu bernilai sama dengan seribu kata-kata (dengan catatan gambar yang dipasang dapat memperjelas materi atau konsep yang akan dijelaskan bukan sekedar hiasan tampilan slide. Kalau sekedar hiasan tanpa makna -menurut saya- justru dapat memecah konsentrasi mahasiswa dalam memaknai  tulisan di slide).

Gunakan ukuran huruf (font size) yang mudah dibaca oleh semua mahasiswa di ruang klas. Semua tampilan huruf harus bisa terbaca, jangan sampai yang nampak kelihatan dari belakang hanya judulnya saja.

Gunakan paduan warna yang bisa menonjolkan tulisan, bukan justru membuat kabur tulisan. Misalnya warna huruf hitam dan latarnya putih, atau huruf putih latarnya biru tua. Hindari paduan warna yang tidak kontras, seperti merah dengan latar biru atau hitam dan biru, warna ini membuat huruf sulit terbaca dan mata audiens menjadi cepat lelah. Perlu diingat juga bahwa ada sebagian orang yang buta warna merah-hijau, jadi sebaiknya hindari penggunaan warna-warna ini secara berlebihan.

Sediakan fotocopy teks atau unggah materi kuliah di web, sertakan pula sumber pustakanya.

Yang perlu dihindari :

Jangan terlalu banyak informasi (tulisan) di slide. Jangan tuliskan semua yang ingin dijelaskan didalam tampilan slide. Ingatlah, audiens harus lebih banyak mendengarkan penjelasan dosen. Jadi jangan sampai terkesan dosen sekedar menjelaskan dengan membaca kata per kata di slide. Tulisan di slide itu idealnya hanya memuat point-point penting yang hendak dijelaskan. Hindari tampilan slide yang hanya berisi gambar, table dan grafik melulu. Audiens sulit berkonsentrasi dan akan menjadi bingung (ini saran yang harus saya ingat, karena powerpoint yang saya buat nampaknya masih ada yang kebanyakan tulisannya dan jeleknya lagi kalau pas kurang persiapan seringkali jatuhnya lebih banyak menggantungkan diri pada powerpoint ketimbang penjelasan yang keluar dari mulut. Yah, inilah efek negatif powerpoint!! ).

Jangan membuat terlalu banyak powerpoint sehingga membuat perkuliahan melebihi  jatah waktunya atau waktu sudah habis sedangkan materi belum tersampaikan semua.

Perbanyak praktek

Kunci kesiapan memberikan perkuliahan yang baik itu tidak hanya bertumpu pada kesiapan materi kuliah, tapi juga bagaimana kesiapan dosen untuk mempresentasikan materi. Bicara kesiapan untuk presentasi tidak ada jalan lain kecuali melalui praktek…praktek….dan praktek (Modal dasar menjadi dosen adalah keberanian ngomong di depan orang banyak. Jadi jalan satu-satunya untuk mengembangkan kemampuan presentasi ya dengan memperbanyak praktek. Hadapi tantangan dan praktekkan. Semakin banyak jam terbang saya kira akan menambah keberanian dan rasa percaya diri. Sebaliknya menghindar dan takut menghadapi tantangan akan semakin memperkuat rasa tidak percaya diri. Berdasarkan pengalaman selama mengajar, ternyata meskipun saya sudah puluhan tahun mengajar rasa kurang PD terkadang masih mampir, terutama saat kurang persiapan, namun  karena sudah berkali-kali praktek, rasa nervous itu relatif mudah dikendalikan)

Dukungan lingkungan dan tehnologi

Lingkungan fisik juga menentukan persiapan perkuliahan. Sebaik apa pun dosen menyiapkan materinya, apabila AC mati atau pencahayaan ruang remang-remang atau gangguan tehnis lainnya jelas akan mempengaruhi konsentrasi dosen dalam memberikan perkuliahan (menurut saya dosen yang baik akan banyak bermunculan dalam lingkungan atau iklim akademik yang mendukung. Perguruan tinggi yang mampu memfasilitasi sarana dan prasarana akademik, mampu mendorong tumbuhnya kebebasan akademik , lingkungan  dan relasi kerja yang sehat dan berorientasi pada pengembangan akademik , birokrasi yang modern dan fleksibel,  dsb. Kalau lembaga pendidikan tinggi tidak bisa menyediakan semua ini, maka keinginan menjadi dosen yang baik akan tergantung pada niat baik masing-masing dosen, tidak akan tumbuh dari grand design lembaga)

4. Menyampaikan Perkuliahan

Menurut Domizio, kunci kuliah yang baik itu ada di kemampuan berinteraksi dengan audiens (mahasiswa). Ada persyaratan yang membuat dosen bisa connect dengan mahasiswanya, selain karena kepribadian ada hal-hal lain yang bisa dipelajari dan dipraktekkan.

Hambatan utama saat harus tampil pertama kali di depan mahasiswa adalah rasa nervous. Ini wajar, bahkan dosen yang puluhan tahun pengalaman mengajar kadang juga dilanda nervous. Rasa nervous, takut, atau cemas terutama dialami apabila merasa tidak cukup menyiapkan materi kuliah atau harus memberikan materi kuliah baru. Namun ini dapat diatasi kalau dosen mau membuat rencana dan persiapan kuliah yang matang dan belajar mendalami materi yang akan disampaikan dan biasanya rasa nervous akan hilang dengan sendirinya beberapa menit setelah dosen mulai bicara di depan kelas. Nervous memang harus dihadapi bukan dihindari.

Untuk membantu dosen lebih siap menyampaikan perkuliahan, ada baiknya kita baca saran Domizio tentang apa saja yang perlu dilakukan dan apa saja yang harus dihindari :

Yang perlu dilakukan :

Mengecek kesiapan peralatan dan ruang, agar perkuliahan lancar dan tepat waktu.

Untuk mengurangi nervous dan mencairkan suasana mulailah dengan percakapan atau sapaan ringan dan akrab dengan mahasiswa. Apabila audiens belum mengenal, perkenalkan diri lebih dulu dan jelaskan mata kuliah dan materi apa saja yang akan dipelajari.

Buatlah kuliah menarik dengan menyelipkan anekdot dan humor yang relevan. Cara ini akan mempermudah mahasiswa mengingat dosen (lagi-lagi saran ini  bagi saya merupakan saran yang paling sulit untuk dipraktekkan . Apa perlu saya tanya resep rahasianya ke Sule dulu ya?)

Tunjukkan entusiasme dengan bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan suara. Perlihatkan pada mahasiswa bahwa dosen menyukai dan menguasai topik yang disampaikan dan dengan senang hati membagikan ilmunya ke mahasiswa.

Bicaralah dengan keras dan jelas. Yakinkan bahwa semua mahasiswa di ruangan bisa mendengar dengan cukup jelas. Saat berbicara pandanglah semua mahasiswa di ruangan. Kontak mata dengan mahasiswa satu per satu menunjukkan bahwa dosen melakukan komunikasi secara individual sehingga bisa meningkatkan konsentrasi mahasiswa agar terfokus pada pembicaraan dosen. Mengarahkan pandangan ke semua sudut ruangan juga dapat untuk mengontrol sejauh mana perhatian mahasiswa. apabila konsentrasi mahasiswa mulai  terpecah dengan ngobrol , kembalikan konsentrasi mahasiswa dengan menaikkan volume suara.

Sedapat mungkin berinteraksilah dengan mahasiswa. Pendekatan interaktif membuat mahasiswa tidak hanya sebagai pendengar tapi juga dilibatkan dalam  perkuliahan.  Model ini juga efektif untuk mengembalikan konsentrasi mahasiswa yang mulai menurun, misalnya dengan cara melontarkan pertanyaan untuk mengecek sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap materi yang disampaikan atau juga untuk menjaring masukan atau feedback dari mahasiswa.

Yang perlu dihindari :

Jangan menutupi pandangan mahasiswa dengan berdiri di depan proyektor atau papan tulis atau berbicara dengan mata tertuju ke layar dalam waktu yang lama. Jangan menampakkan wajah yang terkesan bosan atau ogah-ogahan. Jangan berbicara terlalu pelan dengan suara datar dan monoton.  Kalau dosen berpenampilan lembek dan tidak bersemangat, jangan heran kalau mood ini membuat  mahasiswa menjadi ikut-ikutan tidak bersemangat (semangat mengajar yang menurun  biasanya saya alami menjelang akhir kuliah atau saat membahas isu atau topik yang sulit atau tidak begitu saya sukai atau kuasai. Lain kali harus hati-hati nih, ternyata mood dosen dalam mengajar bisa menular ke mahasiswa)

teachline ls huji ac ilJangan hanya melihat buku , handout atau slide, mahasiswa tidak ingin mendengar orang membaca. Dengan hanya membaca akan mengesankan dosen tidak punya rasa percaya diri, dan menghambat kemampuan dosen untuk mengekspresikan kepribadiannya.

Jangan terlalu banyak mengulang-ulang kata verbal seperti ‘emm’, ‘err’, ‘maksud saya’, kebanyakan dosen mengeluarkan kata-kata ini secara spontan atau tidak disadari (wah kalau itu sudah jadi kebiasaan atau bahasa Jawanya “lagean” ya susah banget untuk menghilangkan. Tapi kalau kebiasaan berhenti bicara dengan mengguman emm, err, itu sering banget memang jelas mengganggu sekali).

Yah , akhirnya selesai juga saya menulis bagian 2 dari tulisan yang puaanjang ini. Kesimpulan yang bisa diambil adalah menjadi dosen yang baik itu perlu proses, tidak bisa instant. Adapun  modal yang dibutuhkan adalah tekad atau keinginan kuat untuk menjadi lebih baik; ketekunan dan semangat untuk  terus mengembangkan ilmu ; dan yang paling penting adalah  passion atau kecintaan pada profesi. Jadi kalau pada awalnya profesi dosen atau pendidik itu sudah menjadi cita-cita atau istilahnya sebagai panggilan hidup maka apa pun tantangan yang dihadapi tidak akan menjadi hambatan, tetapi  justru semangat untuk dihadapi demi pengembangan diri dan profesi. Kira-kira seperti itu……teorinya. Untuk  prakteknya bagaimana, jawabnya dikembalikan ke kita masing-masing.

Gambar : thepunch.com.au. dan teachline.is.huji.ac.il