Dalam tulisan “Gelar Akademik : Bungkus atau Isi?” saya menyinggung tentang pentingnya soft skills sebagai komponen utama dalam evaluasi mahasiswa. Hal sama juga saya tulis dalam komentar saya menanggapi tulisan Bu Daryanti  disini.  Beranjak dari situ saya ingin menulis seputar soft skills : apa itu soft skills dan mengapa soft skills itu penting.

thebigrock comWikipedia menjabarkan apa pengertian soft skills dengan jelas sekali. Soft skills adalah istilah sosiologis yang berkaitan dengan kecerdasan emosional, sifat kepribadian, ketrampilan sosial, komunikasi, berbahasa, kebiasaan pribadi, keramahan, dan optimisme yang mencirikan kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain. Soft skills merupakan kecerdasan emosional dan sosial (Emotional Inteligence Quotient) yang sangat penting untuk melengkapi hard skills atau kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient). Soft skill menyangkut karakter pribadi seseorang yang dapat meningkatkan interaksi individu, kinerja pekerjaan dan prospek karir. Tidak seperti hard skill  yang berkenaan dengan kemampuan menyerap ilmu atau keahlian dan kemampuan untuk melakukan jenis tugas atau kegiatan tertentu, soft skill berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk berinteraksi secara efektif dengan sesamanya  baik di dalam dan di luar tempat kerja. Soft skills adalah bentuk kompetensi perilaku sehingga dikenal pula sebagai keterampilan interpersonal atau people skills, yang mencakup keterampilan komunikasi, resolusi konflik dan negosiasi, efektivitas pribadi, pemecahan masalah secara kreatif, pemikiran strategis, membangun tim, keterampilan mempengaruhi dan keterampilan menjual (gagasan atau ide).

Dari  definisi soft skills di atas dapat ditarik kesimpulan orang yang mempunyai soft skills tinggi adalah orang yang berbudi pekerti, yang mampu mengontrol emosinya dan itu tergambar dalam budi bahasanya, dalam caranya berkomunikasi , perilakunya tidak grusa grusu, satunya kata dan perbuatan atau berintegritas tinggi, tenggang rasa dan toleransi tinggi. Soft skill tinggi sudah semestinya menjadi bagian yang melekat (embedded) dalam diri seseorang dengan latar belakang pendidikan atau intelektual tinggi (hard skills).

Persoalannya adalah mengapa para sarjana lulusan lembaga pendidikan tinggi di Indonesia tidak mesti menunjukkan karakter orang yang berbudi pekerti ? Buktinya mudah ditemukan saat kita lihat debat di lembaga DPR yang terhormat yang kerap ditayangkan TV. Mengapa mereka berdebat seperti hanya adu kepandaian dan penguasaan ilmu, pengin menonjolkan diri, merendahkan lawan debat dan tidak berusaha menemukan titik temu guna mendapatkan solusi?  Akhirnya debat di parlemen jadi tidak mendidik orang tentang cara bernegosiasi dan mencapai kesepakatan tapi jadi arena adu mulut yang membosankan dan penuh dengan hujan interupsi. Hal sama dapat ditemukan saat  pejabat birokrasi memberikan pernyataan tentang suatu problem publik. Seringkali mereka mengeluarkan statement yang tidak focus ke pemecahan masalah terkait dengan tanggungjawabnya malahan menyalahkan atau mencari kambing hitam guna berkelit atau melepaskan diri dari tanggungjawab.

Melihat fenomena rendahnya soft skills di kalangan kaum terpelajar membuat saya jadi khawatir jangan-jangan perilaku yang sama juga ada di diri saya. Seringkali saya menuntut ke mahasiswa harus ini itu, begini begitu, menghujani mereka dengan kotbah soal moral dan etika. Tapi , apakah perilaku saya, kinerja saya sebagai guru dan dosen selama ini bisa memberikan teladan ke mahasiswa sehingga saya cukup pantas untuk mengkotbahi mereka cara berinteraksi dan berkomunikasi yang sopan, cara menghargai orang lain. Jangan-jangan saya selama ini hanya bisa menuntut ke mahasiswa untuk menghargai saya, untuk bertutur sopan ke dosen, tapi aturan ini tidak berlaku saat saya berkomunikasi dengan mereka , saya bebas membentak mereka, saya bebas memaksa mereka agar manut dengan aturan yang saya buat. Kalau saya sebagai dosen berperilaku semacam ini gimana ya mahasiswa itu menilai saya? Jangan-jangan mereka itu patuh, segan atau bahkan takut pada saat di depan saya saja tapi akan mempergunjingkan atau bahkan melontarkan sumpah serapah apabila saya tidak ada. Who knows?

Jadi, kalau saat ini kita resah dengan perilaku murid atau mahasiswa yang semakin tidak menghargai guru atau dosen, maka sebagai orang tua, guru dan dosen  kita harus bertanya dan menggugat diri kita sendiri : Apa yang selama ini telah kita ajarkan ke anak-anak kita itu ya kok mereka jadi tidak mengenal sopan santun? Apa yang salah dengan sistem pendidikan di Indonesia sehingga yang diproduksi adalah anak-anak didik yang ber-soft skills rendah ?

Jika soft skills itu menyangkut pembentukan karakter , kita jadi bertanya apakah pendidikan karakter dan akhlak yang  diberikan sejak di TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi itu masih kurang? Kalau ternyata porsi pendidikan karakter yang selama ini ada di pelajaran Agama dan PKN itu ternyata kuantitas dan kualitas sudah cukup, terus apa lagi yang kurang? Saya tidak mempunyai kapasitas dan kompetensi untuk menjawab pertanyaan ini. Namun saya akan mencoba memberikan gambaran tentang apa itu materi yang biasanya menjadi bagian dari pembentukan soft skills yang saya temukan di berbagai sumber di internet. Semoga saja informasi ini bisa memberi gambaran tentang apa yang masih kurang atau mungkin tidak bisa disampaikan melalui pelajaran agama dan PKN di sekolahan.

Vishal Jain mengemukakan soft skill meliputi semua aspek keterampilan generik yang mencakup unsur-unsur kognitif yang terkait dengan keterampilan non-akademik. Unsur-unsur soft skills yang perlu dikuasai khususnya oleh para mahasiswa atau mereka yang berpredikat sarjana meliputi :

Communicative skills.

Thinking skills and Problem solving skills.

Team work force

Life-long learning and Information Management

Entrepreneur skill

Ethics, moral and professionalism

Leadership skills

Ketrampilan-ketrampilan di atas dikategorikan oleh Jain menjadi dua kelompok kategori yakni ketrampilan yang harus dimiliki (must have) dan ketrampilan yang bagus untuk dimiliki (good to have).  Berikut table kategorisasi ketrampilan soft skills menurut Jain :

The “Must Have”and “Good To Have” Elements of Soft Skills

No. Soft Skills Must Have Elements (Sub-Skills) Good To Have Elements (Sub-Skills)
1. Communicative Skills Ability to deliver idea clearly, effectively and with confidence either orally or in writingAbility to practice active listening skill and respond.

Ability to present clearly and confidently to the audience.

Ability to use technology during presentation.Ability to discuss and arrive at a consensus.

Ability to communicate with individual from a different cultural background.

Ability to expand one’s own communicative skill.

Ability to use non-oral skills.

2. Critical Thinking and Problem Solving Skills Ability to identify and analyze problems in difficult situation and make justifiable evaluation.Ability to expand and improve thinking skills such as explanation, analysis and evaluate discussion.

Ability to find ideas and look for alternative solutions.

Ability to think beyond..Ability to make conclusion based on valid proof.

Ability to withstand and give full responsibility.

Ability to understand and accommodate oneself to the varied working environment.

3. Team Work Ability to build a good rapport , interact and work effectively with others.Ability to understand and play the role of a leader and follower alternatively.

Ability to recognize and respect other’s attitude, behavior and beliefs.

Ability to give contribution to the planning and coordinate group work.Responsible towards group decision.
4. Life-Long Learning & Information Management Skill Ability to find and manage relevant information from various sources.Ability to receive new ideas performs autonomy learning. Ability to develop an inquiry mind and seek knowledge.
5. Entrepreneurship skill Ability to identify job opportunities. Ability to propose business opportunity.Ability to build, explore and seek business opportunities and job.

Ability to be self-employed.

6. Ethics, Moral & Professional Ability to understand the economy crisis, environment and social cultural aspects professionally.Ability to analyze make problem solving decisions related to ethics. Ability to practice ethical attitudes besides having the responsibility towards society.
7. Leadership skill Knowledge of the basic theories of leadership.Ability to lead a project. Ability to understand and take turns as a leader and follower alternatively.Ability to supervise members of a group.

Sumber : Vishal Jain. “Importance of Soft skills development in education”.

Soft skills ternyata  tidak hanya  perlu bagi mahasiswa,   dosen pun perlu dilatih atau dibekali dengan soft skills agar bisa menjalankan tugasnya sebagai dosen yang bertanggungjawab mendidik dan memberi  teladan ke mahasiswa maupun  untuk mengembangkan dan mempraktekkan ilmunya. Berikut ini jenis-jenis soft skills yang perlu dikuasai dosen menurut MMM Training Solution

 

Setelah membaca materi soft skills apa saja yang perlu ditambahkan kepada dosen dan mahasiswa, saya jadi mengerti ternyata soft skills itu tidak sekedar bicara kemampuan berinteraksi dan menjalin hubungan antar manusia yang – menurut saya -  tidak akan cukup kalau penguasaan soft skills itu kita gantungkan sepenuhnya pada pembelajaran yang berakar pada ajaran tentang etika, budi pekerti dan akhlak moral saja. Karena ternyata soft skills itu merupakan skills atau ketrampilan menjalin relasi dan interaksi yang sangat luas yang tidak hanya mencakup dimensi etika dan moral saja, tapi juga ketrampilan berkomunikasi, berpikir kritis dan berorientasi pada pemecahan masalah, manajemen informasi, kewirausahaan, dan kepemimpinan. Bahkan khusus untuk dosen, pelatihan soft skills sangat tehnis sekali misalnya untuk materi komunikasi tidak hanya  meliputi komunikasi verbal, tapi juga komunikasi yang non verbal seperti senyum, postur tubuh, kontak mata. Kemudian ada ketrampilan presentasi; etiket e-mail, kerja, dan penampilan; dan ketrampilan mendengarkan.

Kesimpulannya, kalau selama ini mahasiswa kita  sudah mendapatkan porsi ajaran etika, moral dan kewarganegaraan yang cukup, maka saatnya mereka juga dibekali dengan pelatihan soft skills yang berorientasi keahlian komunikasi dan berinteraksi yang lebih bersifat praktis yang itu sangat dibutuhkan untuk menyiapkan mahasiswa dalam memasuki persaingan kerja di era global. Dan dalam hal pendidikan soft skills, persyaratan dasar yang harus dipenuhi dosen adalah integritas dan kredibilitas. Karena pendidikan soft skills tidak akan cukup kalau hanya diberikan dengan model pendekatan transfer of knowledge atau hanya teori saja alias NATONo Action Talk Only. Pengajaran soft skills sebagaimana  pendidikan agama, perilaku, budi pekerti  atau etika ,  hanya akan  efektif kalau menggunakan pendekatan modeling, memberi contoh atau keteladanan yang dilakukan dosen. Jadi kalau selama ini soft skills anak muda Indonesia itu rendah, maka  timbul pertanyaan apakah generasi tua : para pemimpin dan tokoh masyarakat, orang tua dan guru/dosen selama ini telah memberikan contoh soft skills yang baik ke generasi muda penerus bangsa ini?

gambar : http://thebigrocks.com/