There is nothing so disobedient as an undisciplined mind, and there is nothing so obedient as a disciplined mind  (Budha)

Ada pendapat yang menyatakan bahwa kemampuan manusia untuk membayangkan, menafsirkan dan membangun gagasan itu laksana lautan – luas dan tidak ada batasnya. Khayalan, imajinasi dan daya kreasi otak manusia itu bisa mengembara menjelajah ke wilayah mana pun.

Apakah berimajinasi itu hanya kemampuan yang dimiliki manusia? Apakah binatang itu bisa melamun, bisa berimajinasi seperti manusia? Apakah binatang mampu meramal? Jawabnya jelas tidak. Perilaku hewan hanya didorong oleh naluri atau instingnya untuk bertahan hidup atau kebutuhan prokreasi. Berpikir dan berimajinasi itu spesifik kemampuan manusia. Manusia adalah makhluk imajinatif – imaginative animals.

Karena itulah, sikap dan perilaku  manusia itu tidak semata didorong oleh naluri atau instingnya tapi ditentukan  oleh cara berpikirnya. “You are what you think” atau “It is all in the mind”. Imajinasi dan pikiran manusia menentukan cara memahami dan memaknai suatu realitas. Pemaknaan akan menentukan cara mempersepsikan atau cara pandang, dan selanjutkan cara pandang akan menggerakkan bagaimana manusia akan bertindak dan berperilaku.

Persoalannya manusia seringkali menyalahkan atau mengkambinghitamkan factor-faktor di luar dirinya sebagai penyebab dilakukannya suatu tindakan padahal sesungguhnya pemicunya ada di otak atau pikiran manusia itu sendiri.

Contoh umum adalah kecenderungan menyalahkan perempuan dalam peristiwa pelecehan seksual. Dalam tindak pelecehan seksual terhadap perempuan biasanya orang memvonis kejadian itu terjadi karena si perempuan yang memamerkan daya tarik tubuhnya, berpakaian tidak sopan atau berperilaku genit sehingga menggoda laki-laki. Jarang orang berpikir sebaliknya, pelecehan seksual terhadap perempuan terjadi karena laki-laki tidak mampu mengontrol syahwatnya.

Laki-laki yang tidak bisa mengontrol nafsunya akan berkilah, salahnya sendiri mengapa memancing nafsu lelaki, tahu sendiri kan lelaki itu mudah tergoda jadi ya jangan menggoda. Tidakkah terpikir dengan menggunakan alasan ini sebenarnya laki-laki menempatkan dirinya tak ubahnya dengan binatang yang hanya punya naluri dan insting kalau ada umpan atau mangsa di depannya tanpa banyak berpikir ya langsung tubruk dan terkam saja.

Manusia itu berbeda dengan binatang karena daya pikirnya. Nalar atau pikiran manusia yang mengendalikan naluri dan instingnya. Manusia bersikap, berperilaku dan bertindak tidak secara spontan dipicu dorongan naluri, tapi dilandasi oleh pemikiran tentang apa untung ruginya, baik buruknya bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Ini yang menjadi keunikan manusia.

Kalau untuk mencegah tindak pelecehan terhadap perempuan, kemudian perempuannya yang harus dikawal dan dikurung, sesungguhnya ini merupakan pelecehan terhadap laki-laki seolah-olah laki-laki itu tak ubahnya binatang ganas dan liar yang kalau melihat mangsa yang menggairahkan langsung terkam dan embat. Seolah-olah laki-laki itu tidak bisa mengontrol syahwatnya sehingga perempuan harus dipisahkan sejauh mungkin dari laki-laki.

Apakah jaminan kalau perempuan ditutup rapat dan dijauhkan dari laki-laki , terus para lelaki akan menjadi baik-baik dan  lebih setia pada  istrinya ? Laki-laki tidak akan lagi tergoda atau berzinah dengan  perempuan lain?

Ada yang terlupa disini, siapa yang bisa mengontrol pikiran manusia? Siapa yang bisa membatasi daya imajinasi manusia? Siapa bisa membersihkan pikiran kotor manusia?

Tentang pikiran manusia kata-kata bijak Budha mengatakan demikian : “” You can close the windows and darken your room, and you can open the windows and let light in. It is a matter of choice. Your mind is your room. Do you darken it or do you fill it with light?”. Intinya, yang membuat kotor (gelap) atau bersih (terang) pikiran manusia adalah manusia itu sendiri. Pikiran seumpama sebuah kamar. Kamar menjadi terang kalau kita membuka jendela dan membiarkan cahaya meneranginya. Sebaliknya kalau jendela itu selalu tertutup,  cahaya tidak bisa memasukinya.

Karena itu selama masih ada laki-laki yang tak bisa mengontrol pikiran dan imajinasinya , maka  bagi perempuan tak ada pilihan lain kecuali hati-hati menjaga tubuhmu karena ancaman bisa datang darimana saja.

Cerpen “DILARANG MENYANYI di KAMAR MANDI ”  karya Seno Gumira Ajidarma  ini dengan cerdas dan kritis menunjukkan betapa luas dan liarnya  imajinasi manusia.

Gambar : dilibrary.acu.edu.au