Ada kalimat yang sering saya dengar saat lihat pertandingan olah raga yang sering diucapkan presenter atau komentator di TV, terutama saat-saat menegangkan ketika tim atau atlit Negara kita tanding dengan atlit Negara lain : “Mari kita berdoa saudara-saudara ! Mohon Tuhan memberikan yang terbaik bagi Tim kita”. Pernah dengar kalimat seperti ini kan? Ingin tahu contoh  doa dalam pertandingan olah raga?  Lihat daftar doa-doa  ini :

Segala puji bagiMu, Yang Maha Merasa Getar Hati Setiap Manusia. Syukur kami atas segala rakmat yang Engkau berikan kepada bangsa ini. Kami tidak akan mendustakan segala nikmat itu, tapi ada satu nikmat kebahagian yang sudah lama kami rindukan. Kebahagian karena timnas sepakbola kami menjadi juara ( kompasiana.com/)

“Semoga doa kita sesama warga negara Indonesia di perantauan ini terkabulkan,” kata Wiwi, yang bekerja di sebuah perusahaan di Malaysia.

“Kalau menang, kita bikin nasi kuning deh biar nanti dimakan rame-rame,” tambahnya.

(bola.net)

Warga Sukoharjo gabungan dari pedagang dan pengemudi becak yang biasa menggelar usahanya di kompleks Pasar Sukoharjo Kota menggelar doa bersama untuk Timnas Sepakbola U-23 Indonesia, Senin (21/11).

“Indonesia harus bisa mengalahkan Malaysia dalam final sepakbola Sea Games 2011,” ujar Kokor di sela sela acara, Senin (21/11).

Meskipun Indonesia telah dipastikan menjadi juara umum perolehan medali emas, perak, dan perunggu dalam Sea Games tahun ini, dia mengatakan kemenangan ini tidak akan lengkap dengan perolehan emas di cabang olahraga sepak bola. (krjogja.com)

Dan bagaimana reaksi kita setelah kekalahan tim sepakbola dalam laga final Sea Games 2011 semalam? Ini beberapa contohnya :

Tuhan, kalaulah negeri kami terlalu kotor untuk sekedar sebuah doa sederhana, doa bagi kemenangan tim nasional kami, kenapa tidak kepedihan ini Kau tumpahkan saja pada mereka yang telah merusak negeri ini dengan laku culasnya. Mengapa tak kau beri peringatan saja langsung pada mereka yang meluluhlantakkan alam yang Kau titipkan pada kami, mereka telah membantai bumi kami dengan keserakahan tak terperih. Hutan luluh lantak, perut bumi mereka kunyah tanpa henti. Mengapa harus Kau timpahkan kesedihan pada kami dan anak-anak muda yang telah mengorbakan diri mereka setengah mati demi sebuah kemenangan, ini sederhana saja Tuhan. Tapi kutahu, pasti Engkau punya rencana lain untuk kami” (kompasiana.com)

sesuai pengalaman pertandingan sebelumnya, kalau Indonesia menang, bangku-bangku itu mungkin terisi penuh. Rasanya berat meninggalkan pemain dalam kemenangan karena itu juga adalah kemenangan saya. Akan tetapi, begitu mudah meninggalkan pemain dalam kekalahan disaat mereka sebenarnya begitu memelukan dukungan. Mungkin karena penonton merasa itu adalah kekalahan mereka. Kita perlu banyak belajar dari negeri Barat dalam hal apresiasi. Dalam pergantian pemain pun mereka memberi tepuk tangan sebagai ungkapan apresiasi usahanya di lapangan (kompasiana.com)

Melihat dan membaca perilaku para supporter atau penonton  olah raga Indonesia, saya jadi ingat pada ibu-ibu yang biasa datang ke rumah minta-minta uang dan baju bekas. Dua ibu-ibu mengaku dari tetangga desa, pertama kali datang pas menjelang Hari Natal, minta uang dan baju bekas katanya sebagai  sedekah Natal. Pertama kali datang, saya kasih uang dan baju cukup banyak. Eh,  satu bulan berikutnya datang lagi dengan permintaaan yang sama…demikian terus diulang setiap bulan. Akhirnya saya jadi jengkel, bukan karena jumlah uang dan baju bekas yang diminta, tapi karena sudah menganggu privasi karena biasanya mereka datang mengetuk pintu pada saat malam sekitar jam 20.00. Setelah itu, tiap kali datang dan minta-minta , saya tolak. Bagaimana reaksi mereka? Cemberut, tidak mengucapkan satu patah kata pun. Padahal saat minta-minta ngomong dengan bahasa halus, duduk di lantai dengan sopan. Begitu keinginan mereka tidak saya penuhi. Hilang deh semua sopan santun itu.

Perilaku yang sama juga saya dapatkan pada seorang pedagang makanan keliling yang sering menawarkan jualannya. Kalau pas menaarkan dagangan ngomongnya halus, tapi begitu saya menolak membeli, dia berlalu begitu saja …hilang wajah ramahnya…

Sepertinya, kita sudah berperilaku sama dengan ibu-ibu peminta-minta dan tukang jualan itu. Kita mohon Tuhan dalam doa yang manis dan sepenuh hati. Namun begitu, doa itu tidak terkabul lupa deh kita mengucapkan terima kasih pada Tuhan. Gimana tho ? Nggak diberi kok terima kasih. Lha memangnya Tuhan itu siapamu ? Yah kita ternyata sibuk dengan segala keinginan kita sendiri, maunya tim sepakbola kita menang. Kalau mereka menang, hati  kita jadi senang. Kita sanjung-sanjung mereka, kita hujani dengan segala hadiah. Tapi kalau kalah, mereka telah membuat kita jadi kecewa , sedih. Ya sudah rasakan sendiri itu kekalahan, jangan ngajak-ngajak kita untuk ikut merasakan.

Tulisan ini tidak saya maksudkan untuk merendahkan makna penting sebuah doa dalam kompetisi olah raga. Bagaimana pun , Indonesia adalah bangsa yang religius yang sadar akan campur tangan Tuhan dalam setiap langkah kehidupannya. Saya hanya ingin mengkritisi perilaku beragama yang berlebihan dan kurang tepat menurut pemikiran saya. Dalam kompetisi olah raga, kinerja atlit adalah kunci utama. Kinerja artinya kerja keras, giat berlatih dan bertanding guna memperoleh kemampuan fisik yang maksimal. Doa adalah penunjang. Tidak akan ada keajaiban semata dalam kompetisi olah raga tanpa kerja keras. Karena itu, prinsip dasar adalah Ora Et Labora , Bekerja dan Berdoa. Doa saja tidak cukup, tanpa kerja keras.

Membaca doa dan harapan para supporter olah raga Indonesia, sepertinya mereka berdoa sekedar memohon atau tepatnya setengah memaksa Tuhan untuk mengabulkan keinginan mereka. Memangnya, Tuhan itu Dora Emon yang punya kantong ajaib yang bisa dengan senang hati memenuhi segala permintaan kita? Tidakkah kita juga berpikir lawan tanding tim kita itu juga memohonkan doa yang sama pada Tuhan? Terus keinginan atau isi doa mana yang akan dikabulkan oleh Tuhan? Kalau ternyata tim kita yang kalah, apa terus berarti Tuhan lebih memihak tim lawan kita? Tentu saja tidak demikian. Karena itu jangan libatkan Tuhan dalam hal-hal yang sepele dan duniawi. After all, it’s only a game. Please, deh jangan lebay !

Gambar :wallcoo.net