Sebel lihat perilaku petinggi lembaga eksekutif dan legislatif yang kelahi terus dan belum bisa move on dari Pilpres 2014? Yah lupakan saja mereka yang sudah tua tapi tidak juga beranjak dewasa, apalagi bijaksana. Kerjanya ribut terus , kok tidak malu sama anak kecil ya. Anak kecil saja tidak semua suka ribut , contohnya Joey Alexander.  Yuk kita kenalan dengan Joey Alexander, anak usia 12 tahun yang masuk nominasi Grammy Awards 2016 untuk kategori musik jazz. Prestasi yang keren dan pasti membuat bahagia dan bangga jadi orang Indonesia.

——————————————

Kompas 9 Desember 2015  memuat kabar baik tentang Indonesia : Joey Alexander, anak Bali usia 12 tahun masuk nominasi Grammy Awards 2016. Tak tanggung-tanggung Joey dinominasikan di dua kategori sekaligus,  album instrumental jazz dan improvisasi jazz terbaik.

joey alexander twitterLuar biasa. Anak 12 tahun dan musik jazz. Perpaduan yang tidak lazim. Kebanyakan anak seusia Joey, di Indonesia bahkan di banyak negara di dunia , asyik dengan games dan musik pop. Tapi Joey adalah anomali, bukan saja untuk Indonesia tapi juga dunia. Anak ini mampu memainkan improvisasi jazz dengan tingkat kesulitan tinggi yang umumnya baru bisa dikuasai melalui praktek  puluhan tahun. Kekuatan musik jazz ada di improvisasi, dan ini butuh feeling maupun passion bukan sekedar penguasaan tehnik memainkan alat musik. Keandalan musisi jazz dibuktikan saat jam session atau saat bermain bersama tanpa direncanakan sebelumnya, tanpa latihan, bebas memainkan alat musiknya tapi tetap harmonis dan enak didengar. Joey mampu ber-jam session dengan tingkat improvisasi tinggi dan itu dilakukannya dengan musisi jazz yang telah matang dan berpengalaman baik di dalam dan di luar negeri. Joey bahkan berhasil memenangkan kompetisi antar master jazz di Ukraina dengan menaklukan 40-an musisi jazz dari berbagai negara.

Menonton kepiawaian Joey memainkan jari-jari tangannya di atas tuts piano membuat rasionalitas jadi tumpul. Berbagai komentar di youtube – yang sebagian besar bule –ada yang menyebut Joey sebagai alien dari planet lain, reinkarnasi dari empu jazz , Mozzart-nya musik jazz, old-soul dan talenta dari Tuhan (God-given talent). Komentar-komentar ini memang tidak salah. Banyak hal dari diri Joey yang sulit dipahami otak manusia. Talenta bermain musik diperoleh dari ayahnya yang musisi jazz amatir selebihnya dia mengembangkan diri melalui youtube dan mendengarkan koleksi cd ayahnya. Di usia 6 tahun Joey telah mampu memainkan karya Thelonius Monk dan kini di usia 12 tahun tingkat penguasaannya sudah melebihi kemampuan musisi jazz sekaliber doktor sekalipun (Buktinya bisa dilihat DISINIDISINI DISINI , dan banyak lagi).

Tidak hanya cara bermain musik saja, kedewasaan Joey juga nampak dari caranya berbicara dan diksi atau pilihan kata yang digunakan.  Berikut beberapa jawaban Joey saat ditanya tentang musik jazz : ... I love jazz because is all about freedom, freedom to express yourself…jazz make me feel happy, joyful and thankful…Jazz is not technique. It’s from the heart. It’s from the groove. ….. Aura kedewasaan, bijaksana dan santun  Joey nampak di acara the The Today Now dan DISINI.

Untuk Joey terima kasih kamu telah memberikan kebahagiaan dan kegembiraan sekaligus kebanggaan pada bangsa Indonesia, sesuatu yang selama ini tidak bisa kami peroleh dari para pejabat negara yang  seharusnya matang, bijaksana dan memberi tauladan pada generasi muda. Masa depan Indonesia ada di tangan generasimu, berkaryalah dan berkreasilah untuk bangsa dan dunia. Untuk masyarakat internasional, jangan lihat Indonesia dari pemerintahannya, lihatlah betapa kreatifnya anak muda Indonesia. Lihatlah  kami punya Joey, GAC, The Overtunes, Jakarta beatbox , Neonomora, dan masih banyak lagi. Karena mereka kami bangga menjadi orang Indonesia.
Gambar : Joey Alexander twitter