Immature love says: ‘I love you because I need you.’ Mature love says ‘I need you because I love you.’ (Erich Fromm).

In love the paradox occurs that two beings become one and yet remain two. (Erich Fromm)

Love is the only sane and satisfactory answer to the problem of human existence. (Erich Fromm)

Bulan Februari menjadi bulan cinta, karena di bulan ini ada Hari Valentine yang identik sebagai harinya anak muda. Gelora cinta yang mengharubiru memang pas kalau disematkan di hati anak muda : hati  yang masih mencari siapa pasangannya, hati yang masih merdeka untuk memilih siapa orang  yang tepat untuk  dijatuhi cinta. Tapi apakah cinta itu hanya terbatas pada cinta asmara ataukah cinta itu lebih dari sekedar ketertarikan fisik?

Menjelang Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang ini tepat sekali kalau kita merenungkan tentang makna dan arti penting cinta bagi manusia.

Arti Cinta

love_free animation co ukApa itu cinta? Mungkin banyak orang akan menjawab mengapa susah-susah merumuskan apa itu cinta. Cinta itu suatu yang perasaan menyenangkan yang dialami oleh semua orang. Cinta itu rasa suka atau sayang pada seseorang yang membuat hati jadi berbahagia. Pokoknya cinta itu untuk dirasakan dan diresapi keindahannya. Cinta itu sesuatu yang bersifat alami jadi tidak perlu didefinisikan atau dimaknai secara filosofis. Cinta itu butuh aksi, bukan teori.

Benarkah demikian?

Cinta memang begitu riil, hadir nyata dalam kehidupan semua anak manusia. Cinta sesuatu yang taken for granted…ada tanpa kita sadari kehadirannya. Karena sudah dianggap taken for granted, sudah demikian adanya , manusia cenderung menjadi lupa akan arti penting cinta.

Pembahasan tentang arti cinta secara logis dimulai dengan pertanyaan tentang hakekat cinta. Pencarian tentang makna atau hakekat cinta secara filosofis sudah dilakukan sejak jaman Romawi kuno (www.iep.utm.edu/love/). Beragam teori telah dirumuskan.  Pandangan umum tentang hakekat cinta merumuskan bahwa cinta itu  bersifat emosional sehingga tidak bisa dijelaskan dalam logika  rasional. Ada lagi yang mengartikan cinta sebagai  murni fenomena fisik yaitu suatu dorongan nafsu kebinatangan atau genetik yang mendikte perilaku kita. Ada pula yang memaknai cinta sebagai suatu perasaan yang sangat spiritual sehingga membuat kita serasa menyentuh dimensi keilahian. Plato, misalnya,  merumuskan konsep cinta lebih sebagai suatu yang luhur dan mulia bukan sekedar nafsu hewani yang didorong oleh hasrat birahi, cinta dilihat dari visi teologis yang melampaui daya tarik sensual. Pemaknaan cinta semacam ini yang kemudian melahirkan istilah cinta Platonis (Platonic love).

Rumusan ideal dari cinta  memang tidak sekedar cinta asmara atau cinta erotis . Secara umum   cinta diartikan sebagai sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut (Wikipedia).

Untuk mempermudah memahami makna cinta , maka cinta dibedakan menjadi : eros, agape dan philia. Eros adalah cinta asmara atau cinta  yang didalamnya ada unsur hasrat seksual.  Dorongan seksual atau hasrat birahi manusia secara naluri tak beda jauh dengan hasrat seksual pada binatang. Sedangkan agape adalah cinta kasih Tuhan pada manusia atau sebaliknya cinta manusia pada Tuhannya , bisa juga cinta pada kemanusiaan. Adapun  philia adalah rasa cinta atau sayang pada teman atau sahabat, pada orangtua, saudara dan keluarga (www.iep.utm.edu/love/)

Dalam bahasan Inggris kata “love” dipakai untuk menyatakan ketiga bentuk cinta : eros, agape, dan philia. Penggunaan istilah “cinta” dalam bahasa Indonesia lebih cenderung untuk menyebut jenis cinta eros atau cinta asmara, sedangkan untuk mengungkapkan  rasa cinta pada Tuhan , keluarga dan sahabat biasa menggunakan  kata kasih atau sayang.

Oke , setelah kita tahu cinta itu ada cinta pada Tuhan (agape) dan sesama manusia baik itu cinta asmara (eros) maupun cinta pada orang tua , teman dan kemanusiaan (philia), terus  pertanyaan selanjutnya adalah apa makna atau hakekat cinta  dan  bagaimanakah seharusnya kita mengekspresikan rasa cinta itu?

Karena saya bukan filsuf maka untuk menjawab pertanyaan ini saya pinjam pemikirannya ahli psikologi sosial , psikoanalis, sosiolog dan filsuf yang humanistis – ERICH FROMM yang menjelaskan dengan indah sekali tentang makna cinta dan seni mencintai dalam tulisannya “The Art of Loving”. Pendapat Fromm yang saya jadikan sumber tulisan ini sebagian besar saya kutip dari resensi Armand F. Baker DISINI .

Kedalaman cinta Erich Fromm

Fromm memberi pernyataan yang mengejutkan, mencintai itu sesuatu yang harus kita pelajari. Ia tidak datang dengan sendirinya, bukan kita lakukan secara naluriah.  Mencintai adalah keterampilan yang harus dipelajari dan dipraktekkan secara aktif. Agar cinta itu tumbuh, seseorang harus aktif bertindak, harus menunjukkan cintanya (However, in order for love to exist, someone must act; someone must do the loving).

Menyangkut soal cinta selama ini kita memposisikan diri sebagai obyek, artinya pikiran kita terfokus pada bagaimana agar dicintai. Berbagai cara ditempuh untuk membuat diri dicintai orang. Dan kemudian apa yang dilakukan untuk mendapatkan cinta?  Yang perempuan ingin tampil cantik dan menarik dan yang laki-laki ingin tampil gagah dan keren. Pokoknya manusia ingin tampil semenarik dan semenonjol mungkin agar perhatian, kekaguman dan cinta terpusat kepadanya. Pikiran dan usaha terpusat pada bagaimana agar dicintai, sehingga lupa bahwa untuk dicintai,  harus mencintai terlebih dulu. Hanya orang yang egois yang ingin dirinya dikagumi dan dicintai, tapi tidak ada keinginan untuk mengagumi dan mencintai  orang lain.

e-forwards comFromm mengatakan cinta itu tidak pasif, tapi harus aktif. Jika kita berharap untuk menerima cinta (dicintai), maka kita terlebih dulu harus siap untuk memberi cinta (mencintai). Cinta bukan jalan satu arah ( nah, ini artinya cinta itu tidak hanya pasif ditunggu kehadirannya. Untuk mendapatkan cinta, orang harus memberi cinta terlebih dahulu) .  Dengan kata lain, inti cinta adalah memberi, bukan menerima. Makna ini sering disalahartikan sebagai cinta itu suatu pengorbanan. Menurut Fromm  ini tidak benar karena dua alasan :

Pertama,  cinta tidak terbatas pada pemberian dalam arti materi (dan dalam kaitannya dengan cinta asmara jangan diartikan dengan pemberian secara fisik lho. Cinta lebih dari sekedar persoalan fisikal. Nanti bisa dilihat dalam pandangan Fromm tentang cinta asmara).  Aspek yang paling penting dari memberi adalah bahwa kita memberikan diri kita, hidup kita, sukacita dan dukacita kita, minat dan pengetahuan kita, pemahaman dan perhatian kita. Kedua, memberikan diri untuk cinta bukan berarti mengorbankan kemerdekaan kita sebagai individu.   Saat seseorang memberikan cintanya, yang hilang dari dirinya hanyalah keegoisan. Mencintai adalah tindakan memberi  yang justru memperkaya si pemberi (secara batin) karena dapat menumbuhkan rasa sebagai individu yang  bebas dan aktif , yang memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada orang lain. Cinta adalah aktif, cinta itu memberi, dan cinta menghasilkan kesatuan yang memperkuat individualitas kita yang sebenarnya.

Intinya, menurut penafsiran saya, dalam cinta itu tidak ada yang dikorbankan. Karena hakekat cinta adalah memberikan apa yang kita punya demi kebahagiaan orang yang dicinta. Demi kebahagiaan orang yang dicinta semata, tanpa pamrih. Kalau kita memberi semata-mata karena ingin memberi dan kalau dengan apa yang kita berikan itu, si penerima menjadi bahagia, itu sudah cukup bagi kita. Kalau seperti itu apa ada yang kita korbankan? Berkorban konotasinya ada sesuatu yang harus kita relakan untuk diberikan atau ada yang hilang dari diri kita, entah itu materi atau nonmateri. Selama kita mencintai semata-mata karena cinta, maka itulah cinta sejati atau cinta tanpa syarat – unconditional love.

Selain mengulas tentang aspek dasar atau hakekat cinta, Fromm juga membahas elemen lain dari cinta yakni peduli, tanggung jawab, rasa hormat dan pengetahuan. Peduli artinya menaruh perhatian secara aktif terhadap hidup dan kesejahteraan orang yang dicintai. Tanggung jawab adalah upaya untuk merespon kebutuhan orang lain, rasa keterbukaan kepada orang yang kita cintai. Menghormati berarti bahwa kita menghormati orang lain sebagai individu, kita menerima dia sebagai dia apa adanya dan tidak mencoba untuk mengubahnya menjadi sebuah objek untuk kebutuhan kita sendiri. Pengetahuan berarti kita harus mencoba untuk mengenal orang lain, baik secara rasional maupun intuitif atau emosional.

Unsur terakhir dari cinta adalah keyakinan atau kepercayaan. Untuk bisa memberikan cinta kita harus percaya sepenuhnya pada orang yang kita cintai. Mencintai artinya membuka diri kita, dan menjadi terbuka berarti menjadi peka atau rapuh. Orang kadang ragu untuk melakukan hal ini karena di masa lalu telah terluka atau kecewa karena cinta. Namun tanpa keterbukaan, yang dilandasi atas kepercayaan, tidak akan ada cinta. Dengan begitu, cinta adalah tindakan yang dilandasi atas rasa percaya. Dan siapa pun yang kepercayaannya (pada orang yang dicintai) hanya sedikit berarti juga memiliki cinta yang sedikit.

Setelah tahu bahwa cinta itu adalah bla..bla..bla… dan aspek cinta itu adalah a….b….c…. Pertanyaan selanjutnya adalah : bagaimana  caranya mencintai itu? ( cara mencintai saya batasi pada sesama manusia (eros dan philia) , adapun tentang cinta pada Tuhan (agape) tidak saya bahas karena takut tulisannya jadi puaaanjang buanget).

Tentang cinta pada sesama, Fromm berpendapat selama kita tidak bisa mencintai semua orang, maka kita tidak bisa mencintai seorang pun. Inti cinta sejati didasarkan pada sikap, cara berpikir atau perasaan, yang diarahkan untuk seluruh dunia dan segala isinya (Iya benar sekali. Kalau orang mencintai sesamanya dengan pilih-pilih atau selektif …Ooh  yang akan aku beri cinta itu mereka yang seide atau sealiran pemikiran dengan aku, yang mendukung aku, yang bisa mendatangkan manfaat atau bisa aku manfaatkan untuk kepentinganku.. orang mencintai dengan bersyarat semacam ini apakah dapat disebut orang yang mencintai?  Intinya , untuk bisa mencintai , hati kita harus terbuka menerima semua orang tanpa pengecualian dan tanpa syarat).

Karena itu, mengutip ajaran Yesus , Fromm mengatakan “ kita jangan hanya mencintai orang-orang yang cinta sama kita, tapi juga harus mencintai musuh kita”. Mencintai musuh (menurut penafsiran Armand F. Baker) tidak berarti kita menerima atau setuju dengan perbuatannya, tapi kita harus bisa memisahkan manusia dari perbuatannya (jadi yang dibenci atau tidak bisa ditoleransi adalah perbuatannya, bukan orangnya. Jadi mengasihi musuh dalam arti memaafkan orangnya dan tidak menaruh dendam dengan melampiaskan balasan yang setimpal. Contoh nyata dari cinta musuh mungkin bisa dilihat pada diri Nelson Mandela yang memaafkan rezim penguasa kulit putih yang menindas kulit hitam. Tentu saja tidak mudah untuk bisa bertindak seperti Mandela, tapi bukankah cinta itu sendiri bukan suatu tindakan yang mudah dipraktekkan. Butuh usaha keras untuk bisa benar-benar mencintai.  Lebih mudah membenci atau tidak peduli,  karena tidak dibutuhkan usaha keras untuk bisa membenci seseorang. Karena itulah, Fromm menyimpulkan hanya orang yang kapasitas kepribadiannya telah berkembang matang yang memiliki kapasitas untuk mencintai sesamanya dengan kerendahan hati yang sejati, mencintai secara total tanpa pamrih. Orang semacam ini yang mampu memaknai arti cinta yang sejati).

Jadi resep untuk mencintai sesama adalah cintailah semua orang jangan hanya mereka-mereka yang suka sama kamu, yang mengagumimu, yang suka memujimu. Cintailah juga mereka yang memusuhimu, yang iri sama kamu, yang benci sama kamu.  Kalau kita bisa mencintai semua orang, bahkan juga musuh kita maka kita akan mudah memaafkan dan melupakan kesalahan dan sakit hati.

Tentang cinta pada diri sendiri, Fromm menyatakan, mencintai diri sendiri sepertinya kontradiktif dengan makna mencintai yang berarti memberi, inklusif atau terbuka bagi semua orang. Cinta pada diri sendiri (self-love) harus dibedakan dengan mengutamakan kepentingan sendiri (selfishness) atau egois. Mencintai diri sendiri berarti peduli tentang diri sendiri, mengambil tanggung jawab untuk diri sendiri, menghormati diri sendiri, dan mengetahui diri sendiri (misalnya bersikap realistis dan jujur ​​tentang kekuatan dan kelemahannya).  Egois tidak ada hubungannya sama sekali dengan cinta. Orang yang hanya mencintai dirinya sendiri tidak kenal apa itu cinta. Orang egois jelas merugikan dirinya sendiri, sebab dengan mengutamakan kepentingan sendiri pintu hatinya menjadi tertutup bagi cinta dari sesamanya. Orang yang hidup untuk dirinya sendiri adalah orang yang kesepian. Orang yang mengasihi dirinya tidak akan mau menderita seperti ini. Karena itulah Fromm mengatakan seorang yang mengasihi semua orang juga mengasihi dirinya sendiri.  Inilah makna dari  mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri.

Kesimpulannya, untuk bisa mencintai sesama kita harus mencintai diri sendiri terlebih dahulu yakni menghargai diri sendiri, tidak merendahkan diri sendiri, menjaga martabat diri sendiri, tahu kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Orang mencintai dirinya adalah orang yang menerima dirinya apa adanya, sehingga dia juga mudah menerima dan mencintai sesamanya sebagaimana apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka.

cheesy-love-blog animation visarts comSelanjutnya tentang cinta asmara, menurut Fromm cinta asmara atau cinta erotis atau cinta fisik sering disalahartikan. Jika seseorang tertarik dengan orang lain karena daya tarik fisik, belum tentu itu bisa disebut cinta. Jika relasi itu hanya bersifat badaniah (fisikal) maka tidak akan bisa memuaskan kebutuhan dasar akan kebersamaan, karena daya tarik fisik tidak akan kekal. Sebaliknya, apabila cinta yang fisikal itu disertai dengan perilaku penuh cinta –berlandaskan kasih sayang kemanusiaan – maka itu akan tumbuh menjadi cinta yang dewasa yang matang. Cinta atas dasar kebutuhan kebersamaan , untuk mengarungi hidup dalam suka dan duka akan bersifat lebih langgeng.  Kata bijak yang saya kutip di awal tulisan ini menyimpulkan pendapat Fromm tentang cinta asmara : Cinta yang tidak dewasa mengatakan : “Aku cinta kamu karena aku membutuhkanmu”. Cinta yang dewasa berkata : “Aku butuh kamu karena aku mencintaimu” .

Jadi cinta asmara meskipun ada unsur ketertarikan fisik atau nafsu seksual semestinya jalinan itu “beyond physical” , lebih dari sekedar kebutuhan atau daya tarik fisik semata. Cinta asmara akan langgeng apabila dibangun di atas fondasi kebutuhan akan cinta dan kebersamaan : kebutuhan adanya pasangan jiwa tempat mencurahkan rasa sayang, teman berbagi rasa dalam mengarungi dinamika pasang surut kehidupan. Cinta asmara yang fisikal semata tidak akan langgeng, karena tubuh manusia itu tetap akan terpisah, hanya jiwa yang bisa menyatu.   Dua manusia yang menyatu dalam satu cinta menjadi “two bodies and one soul” atau Fromm menyebutnya (ada di kutipan kata bijak di awal tulisan ini) “two beings become one and yet remain two” (dua makhluk menjadi satu namun tetap dua).  Inilah yang disebut Fromm sebagai mature love, cinta yang matang.  Cinta asmara yang matang itu apabila kita membutuhkan pasangan kita karena kita mencintainya, kita menghormati dan menghargai tubuh dan jiwa pasangan kita. Sedangkan cinta asmara yang belum matang apabila kita mencintai pasangan kita karena kita membutuhkannya. Artinya selama kita masih membutuhkannya,  rasa cinta itu akan tetap ada, tapi jika tidak lagi membutuhkannya (mungkin karena sudah ada yang lain yang bisa memuaskan kebutuhan itu) maka cinta itu akan mudah berpindah ke lain hati.

Kesimpulannya,  cinta asmara akan langgeng  apabila  kita mencintai pasangan kita apa adanya. Mencintai apa adanya artinya kita membutuhkan keberadaannya di sisi kita semata-mata karena cinta, bukan karena membutuhkan apa-apa yang bisa diberikannya untuk membuat diri kita bahagia. I need you because I love you.

Yang menarik untuk kita renungkan adalah kesimpulan Fromm tentang posisi cinta di dunia kita sekarang ini. Menurut Fromm kondisi dunia saat ini bukan merupakan tempat yang subur bagi kehadiran cinta. Prinsip-prinsip dasar yang melandasi keberadaan masyarakat saat ini tidak lagi sejalan dengan prinsip-prinsip cinta. Dalam masyarakat modern, sistem perdagangan bebas yang berbasis kompetisi menuntut orang agar selalu di posisi terdepan. Dorongan atau nafsu untuk unggul memicu hasrat manusia untuk memandang sesama sebagai pesaing yang harus dikalahkan  bahkan kalau perlu dikorbankan demi ambisinya menuju nomor satu. Manusia saat ini cenderung semakin egois  dan pengutamaan pada materialism membuat manusia menomorduakan atau bisa jadi melupakan sama sekali nilai-nilai cinta kasih, nilai-nilai spiritual.  Fromm tidak mengatakan bahwa tidak mungkin untuk mencintai di dunia saat ini,  tapi dia merasa bahwa itu sangatlah sulit, dan bahwa cepat atau lambat beberapa perubahan radikal harus dilakukan agar cinta masih bisa bertahan dan tetap bersemayam di hati manusia.

Setelah menyelami kedalaman pemikiran Fromm tentang cinta, apakah kita tetap berpendapat bahwa mencintai itu hal yang sangat mudah untuk diterapkan? Cinta itu tidak usah direnungkan maknanya secara filosofis karena yang penting itu prakteknya? Memangnya kita selama ini sudah bisa mempraktekkan prinsip-prinsip cinta ? Kalau jawabnya belum mari bersama-sama kita sebarkan benih-benih cinta di sekeliling kita, dan tentunya kita tidak perlu menunggu Hari Valentine untuk bisa menebar benih cinta. Karena cinta butuh aksi, tidak sekedar seremoni dan selebrasi.

Untuk menutup renungan kita tentang cinta pas sekali kalau kita lihat video-video  indah berikut ini :

Makna cinta yang sungguh menyentuh hati yang terungkap dalam lirik lagu WHEN GOD MADE YOU yang dinyanyikan oleh Newsong dan Natalie Grant dan   I  N I versi lainnya .

Makna cinta  sebenarnya sangat sederhana  namun tidak semua orang bisa menyadarinya seperti visualisasi   GOOGLE DOODLE ini.

Gambar :  love-free.animation.co uk, e-forward.com, dan cheesy-love-blog     animation visarts com